Langsung ke konten utama

TANGIS ANAK NEGERI

 TANGIS ANAK NEGERI


Telah satu bulan kita saksikan, 

Tentang fenomena melalui media sosial kita, 

Tentang jalan-jalan berbagai  kota di Republik kita,

Tentang asap hitam yang menjulang ke angkasa,

Dan tentang teriak massa yang pecah bagai gelombang,

Serta, tentang suara rakyat tak lagi ditampung

oleh telinga yang bebal di kursi Dewan Perwakilan.


Lihatlah Tuan, disana

Tubuh-tubuh itu jatuh tersungkur,

Dan darah membasahi tanah  pertiwi,

anak bangsa gugur bukan di medan perang,

melainkan di antara bambu runcing yang berganti gas air mata, 

Di antara batu yang diterbangkan oleh amarah yang tersulut oleh ketidak-adilan , 

maupun senjata yang diarahkan pada sesama anak bangsa. 


Lihatlah Tuan, 

Di sana, kepercayaan pun runtuh,

bagai dinding tua dihantam badai,

janji perwakilan menjadi abu, 

ketidakadilan menyalakan bara

yang menjelma menjadi  kerusuhan dan penjarahan.


Lihatlah Tuan,

Negeri tercintaku menangis,

air matanya bercampur debu jalanan,

dalam jerit rakyat yang lapar akan keadilan,

Lapar akan suara yang didengar dan diperhatikan,

Lapar akan bangsa yang kembali pulang

kepada nurani.


Oh Indonesiaku,

jangan biarkan api ini melahap dirimu,

jangan biarkan darah anak-anakmu menjadi persembahan yang sia-sia,

bangkitlah dengan akal sehat dan jiwa bijaksana,

sebelum luka terus melebar dan menganga,

Hingga tak berhenti merenggut nyawa. 


@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 1 September 2025. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

SELAMAT DATANG CAHAYA

 SELAMAT DATANG CAHAYA Selamat datang, wahai jiwa-jiwa Pencari, Telah tiba langkah kakimu di Madrasah yang membuka asa. Tahun ajaran baru terbentang bagai lautan hikmah, setiap langkahmu adalah jejak menuju cahaya. Tinggalkan lelah masa lalu di balik gerbang, buka lembaran suci dengan niat yang terang. Ilmu baru menantimu dalam baris ayat dan kata,  akhlak mulia menuntunmu di setiap langkah nyata. Jangan engkau gentar menghadapi tantangan baru, karena peluhmu hari ini adalah mahkota esok hari Jangan malu belajar dari salah dan lupa, karena setiap kesalahan adalah guru utama. Madrasah bukan sekadar bangunan berdinding, ia adalah taman ilmu, ladang akhlak yang subur, di sanalah kau menabur mimpi-mimpi luhur, dan memanen iman yang mengakar subur. Bangkitlah, pelajar Madrasah… Hadapi tahun Ajaran baru dengan semangat membara, gapailah ilmu,  Dan perindah dirimu dengan adab mulia, dan  karena engkau adalah penerus cahaya umat dan bangsa.  @ Ma'ruf Abu Said Husein, Si...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.