Langsung ke konten utama

CERMIN JIWA

 CERMIN JIWA


Tuhan.......

Terimakasih aku ucapkan 

Atas anugerah cermin jiwa, bernama kata-kata.

Ia adalah tempat setiap diri berkaca

Ia adalah tempat setiap kita membaca jiwa-jiwa.


Dalam setiap kata yang meluncur,

terdapat jejak jiwa yang tak terlihat oleh mata.

Bahasa bukan sekadar bunyi lisan anak manusia,

melainkan cermin jernih yang memantulkan warna, 

Memantulkan bentuk dan kondisi jiwa


Tuhan ........

Terimakasih aku ucapkan

Atas anugerah agama dengan ruh tata Krama, sebagaimana dalam firman suci dan sabda nabi.

Ia berdiri sebagai penjaga sunyi,

Yang tampil dalam setiap kata, dan gerak raga.

Kata dapat menjadi obat atas luka,

atau justru menggores  luka yang sembuhnya butuh waktu yang lama.

Maka, setiap kalimat memerlukan kebijaksanaan,

agar tak menebar bara dalam percakapan.


Berbahasalah kita seperti menyalakan lentera—

menuntun dengan cahaya, bukan membakar dan menghancurkan, 

Sebab, dalam dunia yang penuh gema,

suara paling luhur adalah kata yang penuh tutur


Begitulah kita belajar, 

bahwa kata adalah cermin jiwa,

dan etika adalah pakaian

agar jiwa tampil anggun dan menawan,


Dari lisan, kata-kata selalu lahir dan mengalir, seperti sungai yang mencari muara.

Namun tak setiap arus membawa sejuk—melaunkan sebagian darinya membawa duri, sebab kata tak terjaga etika.


Bahasa adalah sayap dari untaian makna,

yang dapat terbangkan jiwa-jiwa ke langit ketinggian,

atau menjatuhkannya dalam lembah kehinaan.

Maka, penting bagi kita, untuk menjaga huruf dan angka,

sebelum ia berubah menjadi beban

yang tak sanggup kita bawa


Ada cahaya di balik tutur yang santun,

ada kesejukan di balik kalimat yang santun dan bermakna..

Biarlah setiap kata menjadi titipan kebaikan,

yang saat tiba pada sepasang, atau ribuan telinga,

Ia terus mengembang menjadi doa,


@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 12 Desember 2025.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Kepada Siapa Lagi Aku Percaya?

  Kepada Siapa Lagi Aku Percaya? Aku berdiri di tengah bising negeri, suara janji bertebaran bagai daun kering berserakan, retak di bawah pijakan dusta yang tak pernah jemu. Lembaga negara— yang seharusnya sebagai benteng, justeru menjadi pasar kepentingan. Kursi-kursi rapat penuh genggam tangan dingin, dimana uang menggantikan nurani. Ormas keagamaan— yang seharusnya menjadi cahaya, justeru terjerat bayang-bayang yang sama. Kas suara doa bercampur bisik laba, membuat langit terasa jauh dari bumi. Aku rakyat kecil, menggenggam resah seperti bara. Jika negara tak bisa kupercaya, jika agamawan pun berpeluk dengan kuasa, dan terlibat andil menggarong negara Lantas, kepada siapa lagi aku harus percaya? Mungkin, hanya pada sunyi di dalam dada, Kepada suara hati yang belum bisa dibeli, Kepada Tuhan yang tetap suci meski para penjaga nama-Nya terjerat ambisi. Di jalan buntu ini aku belajar, bahwa kejujuran bukan milik lembaga, tetapi perjuangan diri— yang s...