Langsung ke konten utama

Postingan

TANGIS ANAK NEGERI

 TANGIS ANAK NEGERI Telah satu bulan kita saksikan,  Tentang fenomena melalui media sosial kita,  Tentang jalan-jalan berbagai  kota di Republik kita, Tentang asap hitam yang menjulang ke angkasa, Dan tentang teriak massa yang pecah bagai gelombang, Serta, tentang suara rakyat tak lagi ditampung oleh telinga yang bebal di kursi Dewan Perwakilan. Lihatlah Tuan, disana Tubuh-tubuh itu jatuh tersungkur, Dan darah membasahi tanah  pertiwi, anak bangsa gugur bukan di medan perang, melainkan di antara bambu runcing yang berganti gas air mata,  Di antara batu yang diterbangkan oleh amarah yang tersulut oleh ketidak-adilan ,  maupun senjata yang diarahkan pada sesama anak bangsa.  Lihatlah Tuan,  Di sana, kepercayaan pun runtuh, bagai dinding tua dihantam badai, janji perwakilan menjadi abu,  ketidakadilan menyalakan bara yang menjelma menjadi  kerusuhan dan penjarahan. Lihatlah Tuan, Negeri tercintaku menangis, air matanya bercampur debu j...

Silaturahmi ke Ndalem Kanjeng Sunan Kalijaga

Silaturahmi ke Ndalem Kanjeng Sunan Kalijaga Di antara desir angin malam, kujejakkan langkah dengan hati bergetar, menuju makammu, wahai kekasih Allah, penyambung cahaya dari langit ke bumi. Rinduku berlapis doa, mahabahku berbalut salam, kupanjatkan shalawat dalam bisikan lirih, agar ruh sucimu menyambut dengan kasih. Kanjeng Sunan, engkau peneduh jiwa, kau jaga rahasia antara syariat dan hakikat, kau anyam iman dalam budaya, hingga Islam bersemi di tanah Jawa. Di hadapan pusaramu, air mata tak lagi kuasa sembunyi, cinta ini bukan sekadar ziarah, tapi azam untuk menapaki jejakmu yang terang. Ya Allah, jadikan silaturahmiku ini bukan sekadar singgah, melainkan penyambung cahaya mahabbah, agar aku selalu ada dalam cintai-Mu sebagaimana cintamu kepada untuk para wali kekasihMu Sebuah cinta tanpa batas. Dari Sang Maha Welas @ Ma'ruf Abu Said Husein, Demak, 31 Agustus 2025. 

SELAMAT JALAN AVAN

 SELAMAT JALAN AVAN Selamat jalan, Avan Kurniawan, penjemput rezeki di jalan berdebu, ojol sederhana dengan doa di dadamu, gugur di aspal yang menjadi saksi bisu. Terkapar di jalan dalam perjuangan menuntut keadilan  Tubuhmu terhempas, roda arogansi kekuasaan yang melindas tanpa rasa, darahmu mengalir membasahi jalan, seakan menuliskan puisi terakhir tentang ketidakadilan. Teriakan histeris pecah di udara, jerit saksi mata menggema di sudut kota, namun roda kekuasaan terus melaju, meninggalkan jejak luka tanpa rasa bersalah dan rasa malu. Avan, Engkau pergi membawa cerita pilu, namamu tercatat di dada bangsa yang kelu, bahwa di negeri ini, nyawa rakyat jelata sering dipatahkan kuasa tanpa rasa. Selamat jalan, Avan Kurniawan, setiap tetes darahmu adalah doa, bahwa harapmu akan terus menyala Dan gugurmu, adalah jalan lapang menuju surga. @. Ma'ruf Abu Said Husein, Karanggede, 29 Agustus 2025. 

SUARA KEADILAN UNTUK ZARA

 SUARA KEADILAN UNTUK ZARA Pagi ini ku baca kembali berita,  Tentang Zara Qairina, Zara, kulihat namamu bergetar di dinding langit, tertulis dengan darah yang diperas dari luka, ditanam di bumi yang bisu, di hadapan kekuasaan yang membutakan nurani,  Engkau mati bukan karena ajal, tapi karena tangan-tangan yang hidup tanpa jiwa, yang menjadikan tubuhmu medan mengumbar nafsu iblisi dalam penyiksaan, seolah kemanusiaan telah mati.  Tangismu, Zara, bukan sekadar jerit seorang gadis belia, ia adalah suara kemanusiaan yang tersayat, menusuk dada zaman, menampar wajah kekuasaan yang memilih bersembunyi di balik tembok diam. Keadilan menunggumu, meski jalannya panjang dan berduri, meski suara kebenaran ditindih oleh kursi-kursi yang dibangun dari kompromi dan dusta. Zara Qairina, Dari Indonesia, kami titipkan namamu pada angin, agar ia berkeliling ke setiap nurani yang belum mati,  untuk bangunkan keberanian yang tertidur, menyalakan api perlawanan dari luka, hingga ke...

BEBAN YANG TERBANG KE LANGIT

 BEBAN YANG TERBANG KE LANGIT  Di punggungku pernah singgah, segunung keresahan tanpa nama, menyulam malam dengan gelisah, menyita siang dengan letih yang. Kini, beban itu perlahan luruh, seperti kabut disapu cahaya fajar, purna bukan akhir, melainkan ruang lapang untuk bernapas lega. Kini langkah terasa ringan, jejakku tak lagi menyeret bayang, seperti burung yang lepas dari sangkar, terbang menembus batas langit dan harap. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Boyolali, 27 Agustus 2025.

AMNESIA SEJARAH PEJABAT KITA

 AMNESIA SEJARAH PEJABAT KITA Sebelumnya Maaf Bu Menteri, Dengan terpaksa aku berkata, Mungkin agak tajam, tapi demi kebaikanmu dan Indonesia kita,  Tentang lidahmu yang tergelincir di mimbar negeri, kau bilang guru hanyalah beban, seperti karung kosong ditaruh di pundak anggaran. Ah, rupanya kau lupa, Bahwa dahulu tangan renta guru yang menuntunmu mengeja huruf, dari abjad hingga angka kas negara, Dan kini engkau bisa duduk di singgasana kebijakan. Maaf, betapa murah kata-katamu, namun mahal air mata para guru, kau ludahi telapak tangan yang pernah menyuapi pikiranmu. Wahai pengidap amnesia sejarah, kau durhaka pada rahim ilmu, pada seragam lusuh di ruang kelas, pada kapur yang habis demi masa depanmu. Aku ingin katakan, bahwa Guru bukanlah beban, merekalah penopang negeri yang ringkih, tercengkeram kebodohan. Sedang kau— beban ingatan bangsa, yang tega menghapus jasa dengan kalimat "Guru telah menjadi beban negara". @. Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 20 Agustus 2025.

DIRGAHAYU REPUBLIK KITA

 DIRGAHAYU REPUBLIK KITA  Malam ini...... Di bawah langit yang dulu kelam oleh peluru, Kami berdiri—diam, tertunduk, haru, Mengenang kalian, para tubuh yang rebah Demi mimpi yang kini kami genggam lemah. Terima kasih, wahai  jiwa-jiwa yang gugur— Doa kami tak pernah cukup membalas luhur. Tanah ini basah oleh darah dan air mata, Oleh nyanyian ibu yang kehilangan anaknya. Kami tahu, kalian tak menuntut apa pun selain merdeka, Kini Republik kita telah berdiri, megah di atas janji yang mulia. Tuhan, terima kasih atas anugerah ini, Kemerdekaan yang ditanam dengan luka suci. Namun, Sungguh kami malu berkata: "Kami telah menjaga." Sebab di kursi para pejabat negeri, di meja-meja kuasa, Ada tangan-tangan yang tak berhenti mencuri di balik senyap, Mengoyak warisan  dengan tawa yang gelap. Di mana hati mereka ketika bendera dikibarkan? Di mana nurani saat sumpah diucapkan? Kami menangis bukan karena perayaan, Tapi karena janji yang pelan-pelan dikhianati zaman. Pejabat berlimp...

IBRAH DIBALIK RAGA YANG TERSIKSA.

 IBRAH DIBALIK RAGA YANG TERSIKSA. Saat tubuh lemah tak berdaya, bagai perahu reyot dihempas badai, nafas maju-mundur mengguncang raga, panas dan dingin bergantian menyulam perih di setiap hela. Dingin tak henti mengikat  dada, rasa itu menancap tanpa jeda, seperti tamu tak tahu waktu, mengetuk dari dalam, menggetarkan seluruh ruang jiwa. Namun di sela detak yang remuk, aku temukan bisikan halus: bahwa setiap derita adalah kitab terbuka, huruf-hurufnya tercetak dari sabar yang diuji, dan syukur yang menanti. Maka, meski raga merintih, jiwa belajar menunduk, menyerap hikmah dari luka, sebab sakit hanyalah pintu menuju pengertian yang lebih dalam tentang rapuhnya aku, dan kokohnya Dia Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 15 Agustus 2025.

PRAMUKA DAN API BANGSA

 PRAMUKA DAN API BANGSA Di bawah bendera Merah-Putih yang berkibar, kami berdiri tegak, menyulam janji pada tanah tercinta. Pramuka bukan sekadar seragam dan tanda, tapi jiwa yang ditempa oleh disiplin, kerja, dan setia. Langkah kami menapak di jalan terjal pembangunan, mengangkat batu harapan, memahat masa depan. Setiap simpul tali adalah ikrar kesetiaan, setiap obor adalah cahaya perjuangan. Di hutan, di lapangan, di tengah riuh kota, kami belajar arti kerja sama dan persaudaraan. Bangsa besar dibangun dari jiwa yang rela berkorban, dari hati yang tak lelah mengabdi dalam diam. Pramuka mengajarkan, membangun bangsa bukan hanya mimpi, tapi kerja sunyi yang diulang tanpa henti. Dan kami, generasi muda, siap menjadi api abadi, yang menghidupkan cita-cita hingga bumi Nusantara tersenyum bangga.  @ Ma'ruf Abu Said Husein, 13 Agustus 2025

MEMENUHI UNDANGAN BUPATI PATI

 MEMENUHI UNDANGAN BUPATI PATI Telah ramai di media sosial kita Tentang suara rakyat Pati yang menolak kesewenang-wenangan. Tentang rakyat Pati yang menolak dimarginalkan. Tentang rakyat Pati memenuhi undangan Bupati sebagai tantangan Sepertinya bakal ada gelombang masa  Di bawah langit kelabu yang menggantung cemas, rakyat Pati akan mengalir seperti sungai yang mencari muara, membawa suara yang tak lagi bisa dibungkam oleh pagar besi dan lidah-lidah ancaman. Di setiap langkah, ada kenangan tentang kebijakan yang dipaksakan, tentang keringat yang direbut tanpa rasa empati di dada, tentang janji yang dikubur dalam diamnya kekuasaan. Aku mulai  membayangkan sebuah hari Yang akan datang dua hari lagi,  Yaitu di 13 Agustus, dua hari lagi terjadi Rakyat Pati akan membuka suara, pada undangan terbuka suara mereka seperti tak lagi sekadar kata, ia menjadi dentang lonceng perlawanan, menembus telinga yang pura-pura tuli, menyentak jantung yang telah lama membatu. Bendera-ben...

LUKA DIBAWAH SERAGAM

 LUKA DIBAWAH SERAGAM Di tanah basah, nama itu terpatri— Prada Lucky, bukan hanya sekedar seragam, tetapi sosok anak manusia yang pulang terlalu cepat, dengan napas dirampas tangan kekuasaan. Bibir negeri pun gemetar menyebut kata keadilan, namun ia sering gugur sebelum sampai ke meja putusan. Hukum berjalan, tapi tertatih-tatih pincang; Kebenaran dikuburkan, kesalahan "diamankan". Kami bertanya, berapa banyak darah harus tumpah sebelum penguasa sadar bahwa nyawa bukanlah pion di papan catur? Prada Lucky, namamu kini menjadi nyala lilin di hati yang enggan padam. Dan kulihat nyala itu adalah perlawanan terhadap lupa, dan doa agar kesewenang-wenangan tak lagi singgah di tubuh negeri yang dikenal ramah ini.  @ Ma'ruf Abu Said Husein, 11 Agustus 2025

Deep Learning dan Jejak Pikiran Dalam Lapisan Gagasan

 "Deep Learning dan Jejak Pikiran Dalam Lapisan Gagasan" Di hamparan data yang tak bertepi, pikiran buatan menapaki jejak-jejak angka, menyulam makna dari riak-riak informasi dengan benang logika yang tak pernah lelah. Setiap lapisan, adalah cermin rahasia, menyaring dunia menjadi pola dan suara, belajar dari bayang-bayang masa lalu untuk menebak cahaya yang akan datang. Neuron-neuron sunyi itu saling berbisik, menyimpan kebenaran di antara bobot dan bias, hingga akhirnya, pengetahuan tumbuh bukan dari hafalan, tetapi dari pemahaman yang berlapis-lapis. Dan di sanalah, Deep Learning mengajarkan kita: bahwa belajar bukanlah sekadar tahu, tetapi mampu melihat inti makna di balik ribuan wajah kenyataan. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Andong 9 Agustus 2025

*Guru dan Pendidikan Ziarah Kubur*

 Hari ini saya mendengar Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF  yang bercerita tentang dakwah dengan perspektif kebudayaan, Beliau memberikan contoh, guru SMK Muh. 2 Andong yang melakukan pembelajaran di makam.  Kisah ini menginspirasi untuk membuat deskripsi imajinatif, tentang sosok Pengajar yang menyampaikan pembelajaran sambil berziarah.  *Guru dan Pendidikan Ziarah Kubur* Di bawah teduh pohon kamboja, guru itu menuntun langkah murid-muridnya, menyusuri lorong sunyi di antara nisan, sambil menuturkan pelajaran yang tak tertulis di buku. “Anak-anakku,” ujarnya lembut, “lihatlah nama-nama yang terukir di batu, mereka pernah seperti kita— tertawa, bekerja, dan bermimpi.” Ia menunjuk tanah yang basah oleh embun, “Di sinilah dunia berhenti memanggil, dan amal menjadi bahasa terakhir, yang tak pernah pudar oleh waktu.” Setiap desah angin membawa pesan, bahwa hidup adalah perjalanan pulang, dan kematian bukanlah akhir, melainkan gerbang menuju pertemuan sejati. Murid-murid it...

SELAMAT DATANG CAHAYA

 SELAMAT DATANG CAHAYA Selamat datang, wahai jiwa-jiwa Pencari, Telah tiba langkah kakimu di Madrasah yang membuka asa. Tahun ajaran baru terbentang bagai lautan hikmah, setiap langkahmu adalah jejak menuju cahaya. Tinggalkan lelah masa lalu di balik gerbang, buka lembaran suci dengan niat yang terang. Ilmu baru menantimu dalam baris ayat dan kata,  akhlak mulia menuntunmu di setiap langkah nyata. Jangan engkau gentar menghadapi tantangan baru, karena peluhmu hari ini adalah mahkota esok hari Jangan malu belajar dari salah dan lupa, karena setiap kesalahan adalah guru utama. Madrasah bukan sekadar bangunan berdinding, ia adalah taman ilmu, ladang akhlak yang subur, di sanalah kau menabur mimpi-mimpi luhur, dan memanen iman yang mengakar subur. Bangkitlah, pelajar Madrasah… Hadapi tahun Ajaran baru dengan semangat membara, gapailah ilmu,  Dan perindah dirimu dengan adab mulia, dan  karena engkau adalah penerus cahaya umat dan bangsa.  @ Ma'ruf Abu Said Husein, Si...

DENDA DUA PULUH LIMA JUTA UNTUK KYAI DESA

DENDA DUA PULUH LIMA JUTA UNTUK KYAI DESA Di sudut surau tua, Al-Qur’an bersaksi, tentang jejak langkah seorang Kyai desa, yang mengajar bukan demi pujian, tapi demi jiwa-jiwa untuk tumbuhnya iman di dada  generasi Bangsa Namun, di jalan ramai, terdengar kabar muram, tentang tangan wali santri yang mengibaskan sombongnya, menghitung pengabdian dengan koin murahan, seolah jasa bisa ditakar dalam timbangan denda. Tak tahu terimakasih, itulah wajah zaman, di mana kesabaran guru dibalas dengan tuntutan, di mana lelah seorang guru, kyai kampung, dijawab tudingan menyayat rasa, dan setiap doa yang ia lantunkan, disambut cemoohan tanpa rasa.  Kyai tak menangis… karena air matanya telah lama tumpah, Menetes deras, saat ia sujudkan dahi di malam sunyi, demi anak-anak yang tak tahu budi, Dan, saat dini hari tiba, ia memohon agar ilmu tetap hidup di sanubari para siswa Bukan Kyai yang merugi, tapi generasi yang kehilangan adab dalam tradisi, orangtua yang mewariskan kesombongan, anak-ana...

IBRAH SEPOTONG DUKA

 IBRAH SEPOTONG DUKA Di sudut sepi ia terdiam, mendekap lara bagai  sahabat lama, Dekapan tanpa air mata,  tanpa keluh kesah, hanya senyum tipis, dan  bahagia yang pura-pura. Dengan senyuman ia menutup luka yang menganga, dalam gemuruh dunia yang tak peduli, Ia berdamai dengan perih, dan sepi. Baginya duka bukan musuh, ia adalah guru dalam diam, mengajarkan betapa kuatnya jiwa,  saat senyum dan tawa selalu setia,  Walau hati remuk yang tersisa. Ia percaya Kadang luka tak perlu disembuhkan paksa,  Sebab ada ibrah tersembunyi dibalik luka, di balik kepalsuan tawa,  ada jiwa yang pelan-pelan menjadi lebih dewasa. @ Ma'ruf Abu Said Husein,  Simo, 19 Juli 2025

MENGUSIR CEMAS MENUNGGU ASA

MENGUSIR CEMAS MENUNGGU ASA   Di persimpangan waktu yang bergetar, ku sulam harap dalam gelombang kecemasan yang memanjang, detik berdentang seperti genderang, mengabarkan kabar yang belum jelas kepastiannya. Hari ini, esok, atau entah kapan waktunya tiba. Langit kadang tampak redup, kadang terlihat  cerah, hatiku pun ikut bersalin rupa. Namun aku tahu, gelisah tak menambah hasil, resah tak mengubah takdir yang telah ditulis. Maka, ku peluk sabar di dada yang sempit, kugenggam doa serapat mungkin, sebab aku percaya, hasil tak akan membohongi usaha. Biarlah pengumuman datang seperti hujan, Turun membasahi lelah, menyejukkan asa. Jika kabar baik, kuterima dengan syukur; jika sebaliknya, aku tak mengharapkannya. Di antara resah dan harap yang berkelindan, kutenangkan jiwa dengan percaya— bahwa yang terbaik, selalu punya waktu untuk tiba, dan segala penantian, tak pernah sia-sia. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo 14 Juli 2025. 

DIA YANG TERBUANG

 DIA YANG TERBUANG Di pelataran sejarah yang berdebu, ada nama yang dahulu bersinar, kini retak, ditikam waktu, dibuang dari ingatan yang ingkar. Langkahnya pernah mengguncang malam, menggenggam nyawa demi terang, namun kini ia jadi bayang, disebut hanya untuk disangkal orang. Jasanya dikuburkan dalam sunyi, di bawah nisan tanpa doa, yang datang justru pengkhianat janji, mengoyak warisan dengan kata nista. Di langit yang muram, nyanyian fitnah terus bergema, seolah kebenaran harus karam dalam lautan lidah berdosa. Bertopeng kesalehan yang dipalsukan Tangan yang pernah menggenggam bara, kini dipenjara dalam prasangka, tak ada tapak yang tersisa, hanya luka di dada dalam sejarah bangsa. Wahai waktu, yang adil menanti, bukalah lembar yang dikunci, agar yang terbuang, tetap berdiri, Diantara puing-puing reruntuhan dan fitnah luluh dalam sunyi. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 8 Juli 2025

Elegi Luka dan Cahaya Hikmah

 Elegi Luka dan Cahaya Hikmah  Di relung jiwa yang paling senyap, Ketika badai merobek senja, Luka menganga, membasahi harap, Dan penderitaan menjelma sebagai  sahabat setia. Ia datang bukan tanpa pesan, Meski pedihnya bagai sembilu tajam. Setiap tetes air mata yang berjatuhan, Adalah embun pagi bagi jiwa yang terbenam. Dari goresan mendalam yang tak terhapus, Terukirlah kekuatan yang tak terduga. Mengajar kita tentang sabar yang tulus, Dan arti bangkit dari abu yang tersisa. Luka bukan sekadar sayatan di kulit kita, Ia adalah pintu menuju empati di dada. Membukakan mata pada jiwa yang terhimpit, Mengenalkan kita pada cinta yang tanpa batas. Wahai sayat-sayat luka, Wahai elegi derita,   Engkau guru dalam sunyi, Engkau menempa hati dari rapuhnya ilusi. Mengikis ego, mengupas topeng diri, Menyisakan esensi sejati. Engkau melodi pilu yang menggetarkan dada, Mencipta harmoni jiwa. Mengajarkan kita untuk membuang takut, Dan menatap esok dengan harapan dan kepasrahan....

SUJUD PENGAMPUNAN

 SUJUD PENGAMPUNAN Sujud Jiwa di tengah ramainya jalan kota. Di antara aspal dan gedung menjulang, Jiwa tersesat, mencari terang. Hiruk pikuk kota memecah telinga, Langkah tergesa, hati merana. Klakson meraung, debu berarak, Di sudut bising, aku terdampar. Bukan keriuhan yang kutakuti, Namun gemuruh dosa di sanubari. Dalam sujud sunyi, di tengah riuh, Kupanjatkan pinta, dengan segenap jiwa. Ampuni langkah yang salah arah, Ampuni lisan yang sering berkeluh kesah. Jalanan kota jadi saksi bisu, Betapa rapuhnya aku, hamba-Mu. Pada-Mu jua, kutumpahkan sesal, Di tengah kalut, kutemukan damai. Semoga Kau dengar rintihan ini, Di antara bising dan keramaian kota. Sucikan jiwa, bersihkan hati, Agar langkah tegar, tak lagi goyah. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Semarang 6 Juli 2025.