Langsung ke konten utama

DIRGAHAYU REPUBLIK KITA

 DIRGAHAYU REPUBLIK KITA 


Malam ini......

Di bawah langit yang dulu kelam oleh peluru,

Kami berdiri—diam, tertunduk, haru,

Mengenang kalian, para tubuh yang rebah

Demi mimpi yang kini kami genggam lemah.

Terima kasih, wahai  jiwa-jiwa yang gugur—

Doa kami tak pernah cukup membalas luhur.


Tanah ini basah oleh darah dan air mata,

Oleh nyanyian ibu yang kehilangan anaknya.

Kami tahu, kalian tak menuntut apa pun selain merdeka,

Kini Republik kita telah berdiri, megah di atas janji yang mulia.

Tuhan, terima kasih atas anugerah ini,

Kemerdekaan yang ditanam dengan luka suci.


Namun, Sungguh kami malu berkata: "Kami telah menjaga."

Sebab di kursi para pejabat negeri, di meja-meja kuasa,

Ada tangan-tangan yang tak berhenti mencuri di balik senyap,

Mengoyak warisan  dengan tawa yang gelap.

Di mana hati mereka ketika bendera dikibarkan?

Di mana nurani saat sumpah diucapkan?


Kami menangis bukan karena perayaan,

Tapi karena janji yang pelan-pelan dikhianati zaman.

Pejabat berlimpah, dan rakyat kecil terus terpinggirkan,

Sementara korupsi terus menjalar seperti akar yang tak terlihat tapi terus mencengkeram erat.

Negeri ini memang telah merdeka, tapi dirampas tanpa peluru.

Dirampas para Penipu


Kami rakyat Indonesia selalu setia. 

Di dada masih berkibar merah putih yang diam-diam berdoa.

Untuk keberanian baru, untuk kejujuran yang kembali suci,

Untuk negeri yang mencintai tanpa menyakiti.

Dirgahayu, Indonesia—mungkin kami belum layak merayakanmu,

Tapi akan terus berjuang agar layak mencintaimu.


MERDEKA. ADIL UNTUK SEMUA !!!


@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 15 Agustus 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Beranda Kemerdekaan Kita (by: Ma'ruf ASH)

  Beranda Kemerdekaan Kita Agustus, bulan ketika merah putih kembali berkibar dimana-mana, Dan rakyat Indonesia menengadah pada langit yang sama, meski dapur masih mengeja dengan sabar, Serta meja makan sering lebih sunyi daripada pidato kekuasaan Kemerdekaan datang sebagai cahaya yang tak pernah kami ingkari. Ia adalah darah para syuhada yang tak pantas ditukar dengan keluh semata. Namun di gang-gang sempit negeri ini, kami melihat harga-harga tak berhenti berlari lebih cepat daripada upah penduduk negeri, sementara harapan masih tertatih mengejar pagi. Orang-orang kecil tetap berangkat sebelum fajar, memanggul cangkul, gerobak, dan doa. Mereka bekerja sepanjang usia, tetapi kemiskinan seolah enggan berpisah dari mereka. Aneh, justru di rumah-rumah reyot itulah syukur paling khusyuk sering dipanjatkan. Sepotong singkong dibagi menjadi kebahagiaan, seteguk teh menjadi pesta kesederhanaan. Obrolan di pinggir sawah menjadi hiburan tak tergantikan. Sedang di gedung-gedung megah, kemer...