IRONI HUKUM KITA (Sebuah refleksi vonis hukuman untuk Ira Puspa Dewi) Di negeri yang suka menuduh bayang-bayang, kebenaran sering datang terlambat— kadang diseret, kadang dipaksa diam di pojok ruangan yang lampunya sengaja diredupkan. Ira Puspadewi, namamu kini melayang-layang di antara bisik-bisik yang tak pernah tuntas, sementara tangan hukum sibuk menudingkan jari, tapi lupa menggenggam bukti. Begitu murah tuduhan hukum di Republik kita, laksana barang bekas "pasar loak" dipinggiran kota. Namun, begitu mahal harga keadilan. Seolah-olah kecurigaan lebih suci daripada fakta. Maka, dalam hati yang lelah, kita pun bertanya ? jika hukum lahir dari prasangka, lalu siapa sebenarnya yang layak dihukum ? Orang jujur, atau koruptor perusak negara? Di balik senyum sindiran yang getir, kita belajar satu hal yang menyesakkan dada: bahwa sering kali tersaji, yang dihukum bukan kesalahan— tapi keberanian seseorang untuk tetap jujur di tengah panggung yang ingin ia tunduk. Dan kita hany...
RENUNGAN ATAS FAKTA DAN INTUISI PECINTA KEBIJAKSANAAN