“RUMAH TUHAN YANG TAK TEDUH LAGI” (Refleksi Penganiayaan di Masjid Agung Sibolga) Di bawah kubah yang mestinya teduh, seorang mahasiswa pergi ke kota, menenteng sisa mimpi dengan sisa sepuluh ribu rupiah di kantong celananya. Ia tak membawa apa pun—hanya segumpal harapan, dan sepotong iman yang ingin ia jaga dari kerasnya jalan-jalan kota. Malam itu, Masjid Agung Sibolga terbuka baginya, sebagai rumah terakhir di antara dingin dan lapar. Ia berbaring di lantai sujud, menyandarkan lelah pada asma Tuhan yang terukir indah di dinding mihrab. Namun, fajar tak pernah datang seperti biasa. Ia tak lagi terbangun oleh adzan, melainkan oleh tangan-tangan yang menolak kasih, dan suara yang lebih tajam dari pedang prasangka. Sungguh mataku mendadak berkaca-kaca Saat di layar kaca, aku membaca kisahnya— tinta berita menggantikan darah yang telah kering. Hatiku bertanya pada langit, adakah itu masih rumah Tuhan? Ataukah kini menjadi istana baru tempat berhala egoisme dan kesalehan palsu ...
RENUNGAN ATAS FAKTA DAN INTUISI PECINTA KEBIJAKSANAAN