TANGIS NURANI BERSAMA LUKA LIMAPULUH SANTRIWATI Dibalik dinding Pondok pesantren, rintih dan Isak tangis sayup-sayup ku dengar, tentang kesucian yang terbakar, Pondok Pesantren..... yang mestinya dipenuhi lantunan ayat, entah mengapa ? langit mendadak muram— seolah sajadah pun kehilangan arah ketika kabar itu pecah dari sela tembok yang selama ini dianggap suci. Lima puluh santriwati, hadir membawa mimpi orang tua tercinta, ingin belajar menggenggam sabar, ingin memeluk Tuhan lebih dekat, ingin tumbuh dalam cahaya. Namun malam berubah menjadi lorong panjang yang menyimpan takut dan luka. Sungguh mengerikan, menakutkan, dan memprihatinkan, saat tangan yang mestinya menuntun, justru datang melukai, saat suara yang mengajarkan iman menjadi gema ancaman, dan nama agama dipakai untuk menutup tangis yang lembut tak terdengar. Orang-orang pun bertanya, mengapa mereka diam begitu lama ? Mungkin karena luka tak bisa langsung menjadi kata. Ada ...
RENUNGAN ATAS FAKTA DAN INTUISI PECINTA KEBIJAKSANAAN