Langsung ke konten utama

MENGINGAT HARI BERSEJARAH DI HALAMAN MADRASAH (By: Ma'ruf Abu Said Husein)


MENGINGAT HARI BERSEJARAH DI HALAMAN MADRASAH




Di halaman madrasah kita, waktu turut terus  berjalan,
dan tanggal pun datang tanpa gaduh—
seperti kapur yang pelan-pelan habis di ujung jari,
meninggalkan debu yang tak pernah tercatat.

Hari ini, 2 Mei 2026 disebut Hari peringatan,
tapi, siapa yang sungguh mengingat ?
tentang langkah-langkah kecil di ruang-ruang kelas yang sempit,
yang lantainya telah retak,
yang atapnya tak bosan menahan hujan dengan doa ?

Di sana, guru-guru berdiri
bukan hanya untuk mengajar huruf,
melainkan untuk menambal harapan
yang kerap robek oleh kenyataan.

Mereka tak tercetak di baliho,
tak disebut dalam pidato panjang,
namun suara mereka menetap
di kepala anak-anak yang belum mengerti, 
betapa mahalnya sebuah kesempatan.

Madrasahku memang terlihat sederhana—
seperti hidup yang dijalani tanpa banyak pilihan.
Buku-buku lama diwariskan seperti nasib,
dan papan tulis menjadi saksi
bahwa ilmu tak pernah hadir tanpa dicari.

Guru-guru berangkat pagi dan pulang  petang,
membawa lelah yang tak bisa ditukar
dengan angka-angka di slip gaji mereka,
Ia menanak sabar di dapur mereka yang sempit,
menghidangkan keteguhan untuk keluarga tercinta,.

Kadang ia bertanyavpelan, 
apakah pengabdian punya batas harga ?
atau ia memang harus selamanya
menjadi sunyi yang dipuji,
tanpa pernah sungguh didengar ?

Hari Pendidikan Nasional kembali hadir,
membawa bunga, ucapan, dan seremoni.
Namun di sudut-sudut yang luput dari kamera,
ada hidup yang tetap berjalan seadanya—
mengajar dengan cinta,
bertahan dengan luka yang tak kasat mata.

Dan kita,
mungkin hanya bisa menunduk sejenak,
merenung di antara riuh perayaan di halaman Madrasah kita, atau di medos yang mereka punya,

bahwa bangsa ini berdiri

di atas bahu mereka yang tak pernah pasti,
Dan dengan semangat yang tak pernah berhenti. 

@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 2 Mei 2026.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

SELAMAT DATANG CAHAYA

 SELAMAT DATANG CAHAYA Selamat datang, wahai jiwa-jiwa Pencari, Telah tiba langkah kakimu di Madrasah yang membuka asa. Tahun ajaran baru terbentang bagai lautan hikmah, setiap langkahmu adalah jejak menuju cahaya. Tinggalkan lelah masa lalu di balik gerbang, buka lembaran suci dengan niat yang terang. Ilmu baru menantimu dalam baris ayat dan kata,  akhlak mulia menuntunmu di setiap langkah nyata. Jangan engkau gentar menghadapi tantangan baru, karena peluhmu hari ini adalah mahkota esok hari Jangan malu belajar dari salah dan lupa, karena setiap kesalahan adalah guru utama. Madrasah bukan sekadar bangunan berdinding, ia adalah taman ilmu, ladang akhlak yang subur, di sanalah kau menabur mimpi-mimpi luhur, dan memanen iman yang mengakar subur. Bangkitlah, pelajar Madrasah… Hadapi tahun Ajaran baru dengan semangat membara, gapailah ilmu,  Dan perindah dirimu dengan adab mulia, dan  karena engkau adalah penerus cahaya umat dan bangsa.  @ Ma'ruf Abu Said Husein, Si...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.