Di halaman madrasah kita, waktu turut terus berjalan,
dan tanggal pun datang tanpa gaduh—
seperti kapur yang pelan-pelan habis di ujung jari,
meninggalkan debu yang tak pernah tercatat.
Hari ini, 2 Mei 2026 disebut Hari peringatan,
tapi, siapa yang sungguh mengingat ?
tentang langkah-langkah kecil di ruang-ruang kelas yang sempit,
yang lantainya telah retak,
yang atapnya tak bosan menahan hujan dengan doa ?
Di sana, guru-guru berdiri
bukan hanya untuk mengajar huruf,
melainkan untuk menambal harapan
yang kerap robek oleh kenyataan.
Mereka tak tercetak di baliho,
tak disebut dalam pidato panjang,
namun suara mereka menetap
di kepala anak-anak yang belum mengerti,
betapa mahalnya sebuah kesempatan.
Madrasahku memang terlihat sederhana—
seperti hidup yang dijalani tanpa banyak pilihan.
Buku-buku lama diwariskan seperti nasib,
dan papan tulis menjadi saksi
bahwa ilmu tak pernah hadir tanpa dicari.
Guru-guru berangkat pagi dan pulang petang,
membawa lelah yang tak bisa ditukar
dengan angka-angka di slip gaji mereka,
Ia menanak sabar di dapur mereka yang sempit,
menghidangkan keteguhan untuk keluarga tercinta,.
Kadang ia bertanyavpelan,
apakah pengabdian punya batas harga ?
atau ia memang harus selamanya
menjadi sunyi yang dipuji,
tanpa pernah sungguh didengar ?
Hari Pendidikan Nasional kembali hadir,
membawa bunga, ucapan, dan seremoni.
Namun di sudut-sudut yang luput dari kamera,
ada hidup yang tetap berjalan seadanya—
mengajar dengan cinta,
bertahan dengan luka yang tak kasat mata.
Dan kita,
mungkin hanya bisa menunduk sejenak,
merenung di antara riuh perayaan di halaman Madrasah kita, atau di medos yang mereka punya,
bahwa bangsa ini berdiri
di atas bahu mereka yang tak pernah pasti,
Dan dengan semangat yang tak pernah berhenti.
@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 2 Mei 2026.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform