Langsung ke konten utama

PIDATO TUAN RAJA (By: Ma'ruf Abu Said Husein)

PIDATO TUAN RAJA

Di bawah langit Jakarta, riuh suara buruh menunggu pidato Tuan raja, dan berharap dapat mengubah nasib mereka,

kata-kata disulam menjadi barisan, seperti buruh yang berharap ada regulasi perbaikan nasib mereka. Yang tak berhenti diperas keringatnya, oleh para kapitalis yang mati rasa.

Hari itu, suara dilipat menjadi peringatan,
dan Sang Tuan Raja berdiri di atas podium—
bukan sekadar sebagai manusia,
melainkan gema yang ingin diyakini sebagai pusat kuasa.

Siang itu, dari bibir meluncur suara keras, dan bertanya,l, hampir seperti permainan di Bustanul Athfal kita, 
“Apakah MBG penting bagi rakyat ?”

Pertanyaan itu melayang,
menguji udara,
mengukur seberapa patuh napas yang dihirup bersama.

Lalu jawaban datang—
serentak bikin geleng-geleng kepala,
Dari ratusan mikropun terdengar “tidak.”, begitu jelas dan nyata.

Seketika, waktu berhenti menjadi jam,
dan berubah menjadi cermin.

Apakah ini ujian ?
Atau sekadar kebetulan yang telanjang?
Apakah sensitivitas seorang raja
diukur dari gema yang ia harapkan,
atau dari keberanian menerima retaknya rasa ?

Di antara tepuk tangan yang ragu,
ada sunyi yang tidak ikut menjawab.
Ia berdiri di sudut-sudut dada,
bertanya lebih dalam dari mikrofon mana pun juga,

jika rakyat menjawab “tidak”,
siapa yang sedang diuji sebenarnya ?

Sang Tuan raja,
atau makna dari pertanyaan dan jawaban yang bergema ?

Dan buruh-buruh pulang sore itu
membawa lebih dari sekadar lelah—
mereka membawa gema yang belum selesai,
menggantung di antara langit dan telinga,
menunggu ditafsirkan
oleh hati yang cukup sensitif
untuk tidak sekadar mendengar saja.

@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 3 Mei 2026

Komentar