Langsung ke konten utama

TANGIS NURANI BERSAMA LUKA LIMAPULUH SANTRIWATI (by: Ma'ruf Abu Said Husein)

TANGIS NURANI  BERSAMA LUKA LIMAPULUH SANTRIWATI

Dibalik dinding Pondok pesantren, rintih dan Isak tangis sayup-sayup ku dengar, tentang kesucian yang terbakar, 

Pondok Pesantren.....
yang mestinya dipenuhi lantunan ayat, entah mengapa ?
langit mendadak muram—
seolah sajadah pun kehilangan arah
ketika kabar itu pecah
dari sela tembok yang selama ini dianggap suci.

Lima puluh santriwati,
hadir membawa mimpi orang tua tercinta,
ingin belajar menggenggam sabar,
ingin memeluk Tuhan lebih dekat,
ingin tumbuh dalam cahaya.
Namun malam berubah menjadi lorong panjang
yang menyimpan takut dan luka.

Sungguh mengerikan, menakutkan, dan memprihatinkan, 
saat tangan yang mestinya menuntun, 
justru datang  melukai,
saat suara yang mengajarkan iman
menjadi gema ancaman,
dan nama agama dipakai
untuk menutup tangis yang lembut tak terdengar.

Orang-orang pun bertanya,
mengapa mereka diam begitu lama ?
Mungkin karena luka
tak bisa langsung menjadi kata.
Ada takut yang dipelihara oleh kuasa,
ada hormat yang dibajak oleh kejahatan bertopeng kesalehan,
ada tubuh kecil
yang dipaksa memikul rasa bersalah
atas dosa yang bukan miliknya.

Aku percaya, bahwa Tuhan tentu tidak tinggal di balik wajah yang berpura-pura suci.
Ia ada pada air mata anak-anak yang kehilangan muka,
pada keberanian yang akhirnya pecah menjadi suara,
pada ibu yang memeluk anaknya sambil hati gemetar,
dan pada keadilan
yang semestinya tidak lagi menunda langkahnya .

Pesantren seharusnya rumah ilmu,
bukan ruang gelap bagi predator bersorban.
Agama seharusnya menjadi pelindung,
bukan tameng untuk membungkam kebenaran.

Dan kita,
jangan lagi terlalu mudah
mengultuskan manusia.
Sebab jubah tak selalu berarti nurani,
dan panjangnya doa
tak selalu menjamin bersihnya hati.

Semoga mereka yang terluka
menemukan kembali dirinya—
sedikit demi sedikit,
dengan keberanian yang tak lagi dipatahkan.
Dan semoga bangsa ini belajar,
Bahwa iman tanpa kemanusiaan
hanyalah topeng yang menunggu runtuh.

@ Ma'ruf Abu Said Husein, 8 Mei 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

SELAMAT DATANG CAHAYA

 SELAMAT DATANG CAHAYA Selamat datang, wahai jiwa-jiwa Pencari, Telah tiba langkah kakimu di Madrasah yang membuka asa. Tahun ajaran baru terbentang bagai lautan hikmah, setiap langkahmu adalah jejak menuju cahaya. Tinggalkan lelah masa lalu di balik gerbang, buka lembaran suci dengan niat yang terang. Ilmu baru menantimu dalam baris ayat dan kata,  akhlak mulia menuntunmu di setiap langkah nyata. Jangan engkau gentar menghadapi tantangan baru, karena peluhmu hari ini adalah mahkota esok hari Jangan malu belajar dari salah dan lupa, karena setiap kesalahan adalah guru utama. Madrasah bukan sekadar bangunan berdinding, ia adalah taman ilmu, ladang akhlak yang subur, di sanalah kau menabur mimpi-mimpi luhur, dan memanen iman yang mengakar subur. Bangkitlah, pelajar Madrasah… Hadapi tahun Ajaran baru dengan semangat membara, gapailah ilmu,  Dan perindah dirimu dengan adab mulia, dan  karena engkau adalah penerus cahaya umat dan bangsa.  @ Ma'ruf Abu Said Husein, Si...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.