Langsung ke konten utama

"Sabda Setan" (By : Ma`ruf ASH)


 SABDA SETAN

Di waktu menjelang senja, aku teringat sebuah riwayat, bahwa Setan pernah berbisik di telinga manusia, mengajarkan dusta, menabur dengki, membujuk hati agar mencintai kuasa. Namun kini setan duduk termangu keheranan, menyaksikan aksi manusia dalam panggung politik dengan cara yang bahkan iblis pun tak sanggup menirunya.

“Wahai manusia,” kata setan lirih, “Dulu akulah guru segala tipu daya, akulah penggoda jiwa yang alpa. Tetapi kinji, mengapa kalian begitu lihai berdusta, mengubah fitnah menjadi senjata, dan menyulap kebencian menjadi mahkota ?”

Manusia tersenyum di balik podium, mengucap demokrasi dengan bibir berbusa, sementara di balik tirai kekuasaan, ia tak segan merancang kematian berderet nama, membunuh kehormatan tanpa sebilah pedang, dan memenggal martabat tanpa belas kasihan.

Melalui media sosial kita, Fitnah diracik menjadi hidangan pagi, ghibah disajikan dalam pesta rahasia, kabar bohong disebar ke segala penjuru, hingga kebenaran kehilangan suara dan kebohongan duduk di singgasana dengan jubah suci bernama kepentingan.

Lawan politik tak cukup dikalahkan, ia harus dihancurkan sampai ke akar, keluarganya diseret ke gelanggang fitnah, masa lalunya dikoyak tanpa belas kasihan, dan kehormatannya diinjak-injak, seolah manusia lain tak punya kebenaran.

Teror politik menjelma bersama angin malam, mengirim ancaman ke pintu-pintu rumah, membungkam lidah yang berani bersuara, menakut-nakuti nurani yang masih berusaha untuk menyala. Dan mereka menyebutnya strategi, seolah kekejaman hanyalah seni untuk memenangkan kursi.

Setan pun menggelengkan kepala, menatap manusia dengan mata kecewa. “Demi Tuhan, aku memang menggoda, tetapi kalian menciptakan industri dosa. Aku membisikkan kebencian kepada satu jiwa, sedang kalian menyebarkannya ke berpuluh, bahkan beratus juta manusia !”

“Aku menjerumuskan manusia dalam kesesatan, sedang kalian membangun panggung untuk merayakannya. Aku menggoda dengan janji kenikmatan, tetapi kalian menjual bangsa demi kekuasaan. Aku tak pernah mengaku sebagai malaikat, tetapi kalian membungkus kejahatan dengan ayat, slogan, dan kata-kata keramat ”

Oh, betapa ganjil panggung demokrasimu, ketika suara rakyat menjadi tangga ambisi, ketika kebenaran ditimbang dengan popularitas, dan keadilan ditukar dengan loyalitas. Rakyat diminta menaati aturan negeri, sementara nurani para pemimpin tergadai di pasar transaksi.

Mengapa, di panggungmu, pengkhianatan disebut kecerdikan, kemunafikan disebut sebagai strategi dalam kepemimpinan, permusuhan dijual sebagai keberanian, dan pembungkaman dipamerkan sebagai ketertiban. Mereka tak malu lagi berebut singgasana dengan segala cara, lalu berpidato tentang moralitas di hadapan bangsa yang terluka.

Wahai manusia yang mabuk kekuasaan, tidakkah kalian takut pada pengadilan zaman ?. Kursi yang kalian rebutkan akan menjadi kenangan, jabatan yang kalian puja akan kalian tinggalkan, tetapi luka akibat fitnah dan penindasan akan selalu hidup dalam ingatan zaman.

Sore ini menjelang panas Mentari beranjak pergi, Ku lihat setan beranjak meninggalkan panggung, bukan karena bertobat, bukan pula karena kalah perang, melainkan malu menyaksikan manusia yang menjadikan kejahatan sebagai perhitungan, menjadikan kebencian sebagai pekerjaan, dan menjadikan kekuasaan sebagai agama bagi keserakahan.

Sebelum menghilang di balik dinding kegelapan, setan meninggalkan satu sabda terakhir:

“Aku memang setan, tetapi aku tahu diriku pendosa. Kalian mengaku suci sambil menebar angkara. Aku menggoda manusia agar jatuh ke jurang, kalian membangun jurang, lalu mendorong sesama ke dalamnya demi sebuah kursi, sampai tak ingat lagi tentang mati.”

@ Ma`ruf abu Said Husein, Simo, 19 Oktober 2026


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Beranda Kemerdekaan Kita (by: Ma'ruf ASH)

  Beranda Kemerdekaan Kita Agustus, bulan ketika merah putih kembali berkibar dimana-mana, Dan rakyat Indonesia menengadah pada langit yang sama, meski dapur masih mengeja dengan sabar, Serta meja makan sering lebih sunyi daripada pidato kekuasaan Kemerdekaan datang sebagai cahaya yang tak pernah kami ingkari. Ia adalah darah para syuhada yang tak pantas ditukar dengan keluh semata. Namun di gang-gang sempit negeri ini, kami melihat harga-harga tak berhenti berlari lebih cepat daripada upah penduduk negeri, sementara harapan masih tertatih mengejar pagi. Orang-orang kecil tetap berangkat sebelum fajar, memanggul cangkul, gerobak, dan doa. Mereka bekerja sepanjang usia, tetapi kemiskinan seolah enggan berpisah dari mereka. Aneh, justru di rumah-rumah reyot itulah syukur paling khusyuk sering dipanjatkan. Sepotong singkong dibagi menjadi kebahagiaan, seteguk teh menjadi pesta kesederhanaan. Obrolan di pinggir sawah menjadi hiburan tak tergantikan. Sedang di gedung-gedung megah, kemer...