SABDA SETAN
Di waktu menjelang senja, aku teringat sebuah riwayat, bahwa Setan pernah berbisik di telinga manusia, mengajarkan dusta, menabur dengki, membujuk hati agar mencintai kuasa. Namun kini setan duduk termangu keheranan, menyaksikan aksi manusia dalam panggung politik dengan cara yang bahkan iblis pun tak sanggup menirunya.
“Wahai manusia,” kata setan lirih, “Dulu akulah guru segala tipu daya, akulah penggoda jiwa yang alpa. Tetapi kinji, mengapa kalian begitu lihai berdusta, mengubah fitnah menjadi senjata, dan menyulap kebencian menjadi mahkota ?”
Manusia tersenyum di balik podium, mengucap demokrasi dengan bibir berbusa, sementara di balik tirai kekuasaan, ia tak segan merancang kematian berderet nama, membunuh kehormatan tanpa sebilah pedang, dan memenggal martabat tanpa belas kasihan.
Melalui media sosial kita, Fitnah diracik menjadi hidangan pagi, ghibah disajikan dalam pesta rahasia, kabar bohong disebar ke segala penjuru, hingga kebenaran kehilangan suara dan kebohongan duduk di singgasana dengan jubah suci bernama kepentingan.
Lawan politik tak cukup dikalahkan, ia harus dihancurkan sampai ke akar, keluarganya diseret ke gelanggang fitnah, masa lalunya dikoyak tanpa belas kasihan, dan kehormatannya diinjak-injak, seolah manusia lain tak punya kebenaran.
Teror politik menjelma bersama angin malam, mengirim ancaman ke pintu-pintu rumah, membungkam lidah yang berani bersuara, menakut-nakuti nurani yang masih berusaha untuk menyala. Dan mereka menyebutnya strategi, seolah kekejaman hanyalah seni untuk memenangkan kursi.
Setan pun menggelengkan kepala, menatap manusia dengan mata kecewa. “Demi Tuhan, aku memang menggoda, tetapi kalian menciptakan industri dosa. Aku membisikkan kebencian kepada satu jiwa, sedang kalian menyebarkannya ke berpuluh, bahkan beratus juta manusia !”
“Aku menjerumuskan manusia dalam kesesatan, sedang kalian membangun panggung untuk merayakannya. Aku menggoda dengan janji kenikmatan, tetapi kalian menjual bangsa demi kekuasaan. Aku tak pernah mengaku sebagai malaikat, tetapi kalian membungkus kejahatan dengan ayat, slogan, dan kata-kata keramat ”
Oh, betapa ganjil panggung demokrasimu, ketika suara rakyat menjadi tangga ambisi, ketika kebenaran ditimbang dengan popularitas, dan keadilan ditukar dengan loyalitas. Rakyat diminta menaati aturan negeri, sementara nurani para pemimpin tergadai di pasar transaksi.
Mengapa, di panggungmu, pengkhianatan disebut kecerdikan, kemunafikan disebut sebagai strategi dalam kepemimpinan, permusuhan dijual sebagai keberanian, dan pembungkaman dipamerkan sebagai ketertiban. Mereka tak malu lagi berebut singgasana dengan segala cara, lalu berpidato tentang moralitas di hadapan bangsa yang terluka.
Wahai manusia yang mabuk kekuasaan, tidakkah kalian takut pada pengadilan zaman ?. Kursi yang kalian rebutkan akan menjadi kenangan, jabatan yang kalian puja akan kalian tinggalkan, tetapi luka akibat fitnah dan penindasan akan selalu hidup dalam ingatan zaman.
Sore ini menjelang panas Mentari beranjak pergi, Ku lihat setan beranjak meninggalkan panggung, bukan karena bertobat, bukan pula karena kalah perang, melainkan malu menyaksikan manusia yang menjadikan kejahatan sebagai perhitungan, menjadikan kebencian sebagai pekerjaan, dan menjadikan kekuasaan sebagai agama bagi keserakahan.
Sebelum menghilang di balik dinding kegelapan, setan meninggalkan satu sabda terakhir:
“Aku memang setan, tetapi aku tahu diriku pendosa. Kalian mengaku suci sambil menebar angkara. Aku menggoda manusia agar jatuh ke jurang, kalian membangun jurang, lalu mendorong sesama ke dalamnya demi sebuah kursi, sampai tak ingat lagi tentang mati.”
@ Ma`ruf abu Said Husein, Simo, 19 Oktober 2026
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform