Langsung ke konten utama

Matinya Presiden Akal Sehat (By: Ma'ruf ASH)

 MATINYA PRESIDEN AKAL SEHAT

(Sebuah elegi pagi untuk akal sehat yang sedang diuji sebagai kritik reflektif untuk Bung Rocky)

Di negeri yang gemar berdebat tentang kecerdasan, ada akal sehat yang perlahan kehilangan kewarasan. Bukan karena otak kekurangan makanan, melainkan karena nalar kehilangan keberanian, untuk membedakan antara fakta dari ketakutan.


Bung Rocky, engkau yang biasa membedah kata dengan pisau logika, yang selalu menjadikan akal sebagai panglima wacana, Membaca statement mu di media, aku jadi ingin bertanya, sejak kapan masa depan sebuah bangsa harus ditakut-takuti dengan angka?

Tiga puluh persen— sebuah angka yang terdengar mengerikan, engkau lemparkan ke tengah percakapan, seolah kecerdasan jutaan pelajar Indonesia berdiri di tepi jurang kehancuran, hanya karena sepiring makanan yang  mungkin tak lagi datang ke meja pendidikan.


Bung Rocky......., sejak kapan IQ boleh menjadi barang dagangan ketakutan ? Sejak kapan kecerdasan anak-anak bangsa boleh diringkas dalam sebuah ancaman ? Dan sejak kapan sebuah kebijakan menjadi begitu suci untuk dipertanyakan ?

Jika MBG tak boleh berhenti, apakah berarti ia tak boleh dikritisi ? Jika niatnya memberi makan generasi, apakah pelaksanaannya kebal dari evaluasi ? Bukankah justru akal sehat menghendaki agar setiap rupiah punya pertanggungjawaban, setiap piring membawa manfaat, dan setiap kebijakan berani diuji dalam fakta di perkembangan hari ?


Bung Rocky, Kami tidak sedang menolak nasi untuk anak-anak yang lapar di pagi hari.

Kami tidak sedang menghalangi gizi yang menjadi hak mereka sejak lahir. Kami hanya menolak ketika kepedulian berubah menjadi tameng bagi kekuasaan, ketika kritik dianggap ancaman, dan pertanyaan dibungkam oleh kecemasan.

Sebab anak-anak tak hanya butuh makanan, mereka juga butuh perpustakaan. Anak-anak tak hanya protein untuk pertumbuhan dalam pendidikan, tetapi guru yang tak terganggu oleh dapur keluarga yang enggan untuk menyala, ruang belajar yang aman, buku yang terbuka, dan pikiran yang merdeka. Apalah guna perut dikenyangkan jika daya kritis dibiarkan kelaparan?


Bung Rocky, engkau boleh benar dalam mengingatkan, bahwa gizi adalah fondasi kecerdasan. Namun, engkau juga harus mengerti, bahwa fondasi bukanlah seluruh bangunan, dan peringatan bukanlah pembuktian. Jika angka tiga puluh persen hendak dijadikan pegangan, tunjukkan hasil penelitian, jelaskan ukuran, terangkan sebab dan hubungan, aga kami tak tersesat di antara data dan ketakutan. 

Bukankah akal sehat tidak hidup dari nama besar,

melainkan dari keberanian menguji pernyataan.

Maka aku bertanya, siapakah Presiden Akal Sehat yang kini kita kabarkan telah wafat ?

Mungkin ia mati ketika jabatan mengalahkan pembuktian, Mungkin ia gugur ketika retorika menutup diskusi. Mungkin ia dikuburkan oleh puja di kursi empuk istana,

Atau barangkali— ia belum mati, ia hanya sedang sekarat di ruang sunyi, tempat penjara akal sehat anak manusia tak jernih melihat dunia,


Bung Rocky, aku mengira, negeri ini tak membutuhkan nabi angka, tak pula dewa yang kebal dari sanggahan. Tetapi, membutuhkan keberanian berkata: yang baik harus dijaga, yang keliru harus diperbaiki, yang belum terbukti jangan dipastikan, dan yang menyangkut masa depan anak bangsa jangan dijadikan alat menakut-nakuti rakyat kita.


Bung Rocky, dengarlah suara zaman:

Jangan biarkan MBG menjadi berhala kebijakan, yang tak boleh disentuh oleh pertanyaan. Jangan biarkan IQ menjadi hantu politik, yang membuat nalar gemetar sebelum berpikir. Dan jangan biarkan akal sehat mati di tangan mereka yang mengaku membelanya.

Sebab yang paling berbahaya bagi kecerdasan bukan sekadar perut yang kekurangan makanan, melainkan pikiran yang kehilangan kebebasan untuk memeriksa kebenaran.

Dan jika suatu hari sejarah menulis tentang matinya Presiden Akal Sehat, semoga ia tidak mencatat kematian seorang manusia, melainkan kematian sebuah sikap: sikap yang berhenti bertanya, takut mengoreksi, dan menganggap pendapat sendiri lebih tinggi daripada bukti.


@ Ma'ruf Abu Said Husein,  Simo, 13 Oktober 2026.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Beranda Kemerdekaan Kita (by: Ma'ruf ASH)

  Beranda Kemerdekaan Kita Agustus, bulan ketika merah putih kembali berkibar dimana-mana, Dan rakyat Indonesia menengadah pada langit yang sama, meski dapur masih mengeja dengan sabar, Serta meja makan sering lebih sunyi daripada pidato kekuasaan Kemerdekaan datang sebagai cahaya yang tak pernah kami ingkari. Ia adalah darah para syuhada yang tak pantas ditukar dengan keluh semata. Namun di gang-gang sempit negeri ini, kami melihat harga-harga tak berhenti berlari lebih cepat daripada upah penduduk negeri, sementara harapan masih tertatih mengejar pagi. Orang-orang kecil tetap berangkat sebelum fajar, memanggul cangkul, gerobak, dan doa. Mereka bekerja sepanjang usia, tetapi kemiskinan seolah enggan berpisah dari mereka. Aneh, justru di rumah-rumah reyot itulah syukur paling khusyuk sering dipanjatkan. Sepotong singkong dibagi menjadi kebahagiaan, seteguk teh menjadi pesta kesederhanaan. Obrolan di pinggir sawah menjadi hiburan tak tergantikan. Sedang di gedung-gedung megah, kemer...