Langsung ke konten utama

Mantan Santri (By: Ma'ruf Abu Said Husein)

 

MANTAN SANTRI


Aku hanyalah mantan santri, yang pernah mengeja huruf-huruf suci di antara dinginnya embun pagi, dan bersujud dalam sunyi malam di hadapan Tuhan yang belum sepenuhnya kupahami.


Kini, waktu telah membawaku pergi, meninggalkan bilik-bilik sederhana, meninggalkan kitab yang menguning tua, juga suara guru yang dahulu mengingatkan kita bahwa hidup bukan sekadar tentang menjadi, melainkan tentang ke mana hati akan kembali.


Wahai Tuhan, betapa panjang perjalanan yang telah kutempuh, betapa sering kakiku tersesat dalam langkah, di jalan-jalan yang tampak menjanjikan dan menipu, hingga kadang aku lupa siapa Pemilik napas yang kuhirup, siapa Pemilik waktu yang kuhabiskan, dan kepada siapa kelak seluruh perjalanan ini harus kupertanggungjawabkan.


Hari ini, di Hari Santri, aku berdiri dengan hati yang menunduk, aku ingin mengucapkan terima kasih.

Kepada kedua orang tuaku, yang dengan doa dan air mata mengantarku ke gerbang ilmu,  meski mungkin hati mereka bergetar melepas anaknya jauh dari pelukan. Dari kasih mereka aku belajar mencintai, dari pengorbanan mereka aku belajar mengerti bahwa cinta tak selalu pandai berkata-kata, tetapi selalu menemukan jalan untuk memberi.


Kepada para guru-guruku, yang tak sekadar mengajariku membaca kitab, tetapi menuntunku mengenali kehidupan. Yang menegur ketika aku lalai, mendoakan ketika aku jauh, dan menanamkan cahaya di ruang-ruang gelap dalam jiwaku.

Memang dahulu aku belum mengerti mengapa nasihat terasa seperti teguran, mengapa disiplin terasa seperti batasan, mengapa kesederhanaan harus menjadi pelajaran, yang kadang terasa menyakitkan.

Kini, setelah usia mengajariku banyak kehilangan, aku menjadi tahu: ada cinta yang menyamar menjadi ketegasan, ada doa yang bekerja tanpa suara, dan ada ilmu yang baru berbuah setelah bertahun-tahun meninggalkan pesantren.


Aku memang mantan santri, tetapi aku bukan mantan pencari iIlahi. Aku boleh meninggalkan pesantren, tetapi jangan biarkan pesantren meninggalkan hatiku. Sebab santri bukan semata-mata nama yang tertulis dalam kenangan, melainkan kesediaan jiwa untuk terus belajar merendahkan diri di hadapan kebenaran Illahi Rabbi.


Kini, dunia mengajakku untuk berlari, mengejar kedudukan, harta, dan pujian. Namun, di sudut hati yang paling sunyi, masih kudengar gema pengajian dahulu: bahwa setinggi apa pun manusia berdiri, ia tetap seorang hamba, bahwa sebanyak apa pun yang dimiliki, tak satu pun akan dibawa pergi selain amal yang diridai Ilahi.

Maka, wahai Tuhanku,

jika hari ini aku masih mampu mengenal-Mu, itu bukan semata-mata karena kecerdasanku. Ada doa orang tua yang tak pernah putus, ada kesabaran guru yang tak pernah habis, ada pesantren yang menjadi persinggahan, dan ada rahmat-Mu yang diam-diam menuntun langkahku pulang.

Terimalah rasa syukurku atas segala tangan yang pernah menggandengku, atas segala nasihat yang pernah menyadarkanku, atas setiap kesulitan yang membentukku, dan atas kesempatan untuk mengenal-Mu sebagai Pemilik kehidupan.


Sebab kini..., aku hanyalah seorang mantan santri yang sedang menua bersama waktu, membawa ilmu yang belum seberapa, amal yang belum sempurna, dan dosa yang begitu banyak, tak terbilang dengan angka.

Namun, aku masih menyimpan harapan: semoga ketika kelak tubuh ini kembali menjadi tanah, orang tuaku menjadi saksi cinta yang tak sia-sia, guruku menjadi saksi ilmu yang pernah ditanamkan, dan hidupku menjadi saksi bahwa aku pernah berusaha mengenal Tuhan,


Aku mantan santri, 

Pesantren memang telah kutinggalkan,

masa muda mungkin telah berlalu, dan suara guru mungkin tinggal kenangan, tetapi selama napas masih dipinjamkan, selama sujud masih dapat kutundukkan, selama pintu ampunan masih terbuka—

Jiwa santri insyaAllah masih ada. 


@ Ma`ruf Abu Said husein (Jebolan Ponpes Al-Manar Semarang, dan Alumni Ponpes Nurul amal Bekasi), Simo, 22 Oktober 2026. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Beranda Kemerdekaan Kita (by: Ma'ruf ASH)

  Beranda Kemerdekaan Kita Agustus, bulan ketika merah putih kembali berkibar dimana-mana, Dan rakyat Indonesia menengadah pada langit yang sama, meski dapur masih mengeja dengan sabar, Serta meja makan sering lebih sunyi daripada pidato kekuasaan Kemerdekaan datang sebagai cahaya yang tak pernah kami ingkari. Ia adalah darah para syuhada yang tak pantas ditukar dengan keluh semata. Namun di gang-gang sempit negeri ini, kami melihat harga-harga tak berhenti berlari lebih cepat daripada upah penduduk negeri, sementara harapan masih tertatih mengejar pagi. Orang-orang kecil tetap berangkat sebelum fajar, memanggul cangkul, gerobak, dan doa. Mereka bekerja sepanjang usia, tetapi kemiskinan seolah enggan berpisah dari mereka. Aneh, justru di rumah-rumah reyot itulah syukur paling khusyuk sering dipanjatkan. Sepotong singkong dibagi menjadi kebahagiaan, seteguk teh menjadi pesta kesederhanaan. Obrolan di pinggir sawah menjadi hiburan tak tergantikan. Sedang di gedung-gedung megah, kemer...