Langsung ke konten utama

Inspirasi Membaca Kisah Haji Merah (By: Ma'ruf ASH)

 INSPIRASI MEMBACA KISAH HAJI MERAH


Ketika aku mulai membaca biografi sosok seorang ulama, 

Terlihat tinta di atas kertas seperti darah

yang belum selesai bercerita.

Setiap halaman menyimpan bara,

setiap kalimat tak berhenti mengetuk dada,

seperti langkah kaki

orang-orang yang tak sudi hidup dalam bayang-bayang penindasan.


Aku membaca lembar demi lembar perlahan,

namun, aku merasa kisahnya berlari

jauh melampaui halaman.

Ia masuk ke mataku,

menyusup ke dalam pikiranku,

lalu menyalakan sebuah pertanyaan:


Sampai kapan manusia harus menundukkan kepala

di hadapan ketidakadilan ?


Dari kisahnya aku melihat,

rantai bukan hanya terbuat dari besi.

Seringkali ia adalah kondisi, 

Yang ditempa dari rasa takut,

dari kebisuan,

dari ketidakpedulian

yang dibiarkan menjadi kebiasaan.


Dan untuk pertama kalinya,

aku merasa halaman buku

bukan lagi sekadar tempat membaca sejarah.

Ia adalah cermin.


Di sana aku melihat diriku sendiri—

seorang pembaca

yang hidup di zaman berbeda,

tetapi masih berjalan

di bawah langit yang sama dengan manusia-manusia

yang pernah kau bela.


Haji Merah,

kau seperti api

yang kutemukan di antara lembaran tua.

Api yang tidak mengajarkanku

untuk membakar dunia,

melainkan menerangi

jalan yang terlalu lama digelapkan.


Kini aku mengerti,

perlawanan tidak selalu berbunyi keras.

Kadang ia tumbuh

dalam keberanian menyuarakan kebenaran,

dalam ilmu yang membebaskan pikiran,

dalam tangan yang terulur kepada mereka yang dipinggirkan.


Saat ku menutup bukumu,

tetapi kisahmu tidak ikut tertutup.


Ada sesuatu yang tertinggal

di antara jemariku,

sebuah bara kecil

yang meminta untuk dijaga.


Dan sejak saat itu,

aku tak ingin hanya menjadi pembaca,

yang selesai membaca lalu lupa.


Aku ingin menjadi mata

yang tak buta melihat ketidakadilan,

menjadi suara

ketika yang lemah dibungkam,

menjadi langkah

ketika kebenaran membutuhkan jalan.


Setelah mengenal kisahmu,

aku tahu bahwa—


sejarah bukan hanya untuk dikenang,

tetapi untuk menyalakan keberanian di dada orang-orang yang membacanya.


@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 2 Oktober 2026.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Beranda Kemerdekaan Kita (by: Ma'ruf ASH)

  Beranda Kemerdekaan Kita Agustus, bulan ketika merah putih kembali berkibar dimana-mana, Dan rakyat Indonesia menengadah pada langit yang sama, meski dapur masih mengeja dengan sabar, Serta meja makan sering lebih sunyi daripada pidato kekuasaan Kemerdekaan datang sebagai cahaya yang tak pernah kami ingkari. Ia adalah darah para syuhada yang tak pantas ditukar dengan keluh semata. Namun di gang-gang sempit negeri ini, kami melihat harga-harga tak berhenti berlari lebih cepat daripada upah penduduk negeri, sementara harapan masih tertatih mengejar pagi. Orang-orang kecil tetap berangkat sebelum fajar, memanggul cangkul, gerobak, dan doa. Mereka bekerja sepanjang usia, tetapi kemiskinan seolah enggan berpisah dari mereka. Aneh, justru di rumah-rumah reyot itulah syukur paling khusyuk sering dipanjatkan. Sepotong singkong dibagi menjadi kebahagiaan, seteguk teh menjadi pesta kesederhanaan. Obrolan di pinggir sawah menjadi hiburan tak tergantikan. Sedang di gedung-gedung megah, kemer...