HAK RAKYAT YANG SEKARAT
Di gedung-gedung megah yang dibangun dari keringat rakyat,
para penguasa duduk diatas kursi kehormatan,
berbicara tentang keadilan dengan bibir penuh janji,
sementara hak-hak rakyat mereka bunuh di ruang sidang,
Di kursi eksekutif, keputusan menjelma menjadi belati,
mengiris harapan mereka yang hidup dalam kekurangan.
Di meja legislatif, hukum dirajut laksana jaring laba-laba,
menjerat rakyat kecil dengan segala keterbatasan yang ada,
tetapi meloloskan mereka yang pandai memainkan kekuasaan.
Betapa ironis negeri yang mengaku menjunjung tinggi demokrasi,
Namun, suara rakyat hanya berharga saat pemilu,
ketika tangan-tangan yang dahulu meminta dukungan,
Selanjutnya sibuk menghitung keuntungan,
dan lupa bahwa jabatan adalah titipan Tuhan
.
Dahulu, rakyat memilih dengan harapan,
tetapi dibalas dengan kebijakan yang menindas dan melahirkan kesengsaraan.
Rakyat membayar pajak demi masa depan,
tetapi justru harus mengemis hak di rumahnya sendiri.
Rakyat menyerahkan suara untuk sebuah perubahan,
tetapi mengapa yang berubah hanya nasib para pejabat di panggung kekuasaan ?
Siapakah sebenarnya yang sedang memerintah negeri ini?
Wakil rakyat, atau para pedagang kepentingan ?
Pelayan publik, atau saudagar kekuasaan ?
Mengapa hukum begitu gagah di hadapan si miskin,
namun mendadak kehilangan suara di hadapan yang berkuasa ?
Wahai para pemegang mandat,
tidakkah kalian mendengar rintih dari perut yang lapar,
sekolah yang tertatih, dan guru yang terabaikan,
dan buruh yang kehilangan kepastian,
serta petani yang kian asing di tanahnya sendir i?
Kalian mungkin bisa membungkam kritik,
membeli kesetiaan, memelintir kebenaran,
bahkan menyulap ketidakadilan menjadi seolah-olah kebajikan.
Namun, kalian tak akan pernah mampu
menghapus ingatan rakyat yang terluka.
Kelak, ketika gemerlap jabatan meredup dan padam,
ketika pengawalan berhenti dan pujian menghilang,
kalian akan berhadapan dengan cermin sejarah:
di sana, tak ada protokol, tak ada pangkat,
hanya jejak pengabdian atau catatan pengkhianatan.
Dan rakyat, yang hari ini kalian anggap tak berdaya,
tetap menyimpan satu kekuatan yang tak bisa kalian rampas:
kesadaran untuk bangkit, keberanian untuk bersuara,
dan hak untuk menentukan masa depan negerinya.
Sebab demokrasi bukan sekadar hak memilih penguasa,
melainkan hak rakyat untuk tidak ditindas oleh wakilnya sendiri.
Dan apabila para wakil berubah menjadi penindas,
apabila hukum kehilangan nurani,
apabila kekuasaan menjelma pembunuh keadilan,
maka yang sedang sekarat bukan hanya hak-hak rakyat—
melainkan jiwa dari republik kita
yang dahulu lahir dari perjuangan
untuk memuliakan manusia, bukan sekedar mengagungkan kekuasaan semata.
@ Ma`ruf Abu Said Husein, Simo, 27 Oktober 2026.
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform