Langsung ke konten utama

Hak Rakyat Yang Sekarat (By: Ma`ruf ASH)

 HAK RAKYAT YANG SEKARAT

Di gedung-gedung megah yang dibangun dari keringat rakyat,
para penguasa duduk diatas kursi kehormatan,
berbicara tentang keadilan dengan bibir penuh janji,
sementara hak-hak rakyat mereka bunuh di ruang sidang,

Di kursi eksekutif, keputusan menjelma menjadi belati,
mengiris harapan mereka yang hidup dalam kekurangan.
Di meja legislatif, hukum dirajut laksana jaring laba-laba,
menjerat rakyat kecil dengan segala keterbatasan yang ada,
tetapi meloloskan mereka yang pandai memainkan kekuasaan.

Betapa ironis negeri yang mengaku menjunjung tinggi demokrasi,
Namun, suara rakyat hanya berharga saat pemilu,
ketika tangan-tangan yang dahulu meminta dukungan,
Selanjutnya sibuk menghitung keuntungan,
dan lupa bahwa jabatan adalah titipan Tuhan

.

Dahulu, rakyat memilih dengan harapan,
tetapi dibalas dengan kebijakan yang menindas dan melahirkan kesengsaraan.
Rakyat membayar pajak demi masa depan,
tetapi justru harus mengemis hak di rumahnya sendiri.
Rakyat menyerahkan suara untuk sebuah perubahan,
tetapi mengapa yang berubah hanya nasib para pejabat di panggung kekuasaan ?

Siapakah sebenarnya yang sedang memerintah negeri ini?
Wakil rakyat, atau para pedagang kepentingan ?
Pelayan publik, atau saudagar kekuasaan ?
Mengapa hukum begitu gagah di hadapan si miskin,
namun mendadak kehilangan suara di hadapan yang berkuasa ?

Wahai para pemegang mandat,
tidakkah kalian mendengar rintih dari perut yang lapar,
sekolah yang tertatih, dan guru yang terabaikan,
dan buruh yang kehilangan kepastian,
serta petani yang kian asing di tanahnya sendir i?

Kalian mungkin bisa membungkam kritik,
membeli kesetiaan, memelintir kebenaran,
bahkan menyulap ketidakadilan menjadi seolah-olah kebajikan.
Namun, kalian tak akan pernah mampu
menghapus ingatan rakyat yang terluka.


Kelak, ketika gemerlap jabatan meredup dan padam,
ketika pengawalan berhenti dan pujian menghilang,
kalian akan berhadapan dengan cermin sejarah:
di sana, tak ada protokol, tak ada pangkat,
hanya jejak pengabdian atau catatan pengkhianatan.

Dan rakyat, yang hari ini kalian anggap tak berdaya,
tetap menyimpan satu kekuatan yang tak bisa kalian rampas:
kesadaran untuk bangkit, keberanian untuk bersuara,
dan hak untuk menentukan masa depan negerinya.

Sebab demokrasi bukan sekadar hak memilih penguasa,
melainkan hak rakyat untuk tidak ditindas oleh wakilnya sendiri.

Dan apabila para wakil berubah menjadi penindas,
apabila hukum kehilangan nurani,
apabila kekuasaan menjelma pembunuh keadilan,
maka yang sedang sekarat bukan hanya hak-hak rakyat—
melainkan jiwa dari republik kita
yang dahulu lahir dari perjuangan
untuk memuliakan manusia, bukan sekedar mengagungkan kekuasaan semata.


@ Ma`ruf Abu Said Husein, Simo, 27 Oktober 2026.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Beranda Kemerdekaan Kita (by: Ma'ruf ASH)

  Beranda Kemerdekaan Kita Agustus, bulan ketika merah putih kembali berkibar dimana-mana, Dan rakyat Indonesia menengadah pada langit yang sama, meski dapur masih mengeja dengan sabar, Serta meja makan sering lebih sunyi daripada pidato kekuasaan Kemerdekaan datang sebagai cahaya yang tak pernah kami ingkari. Ia adalah darah para syuhada yang tak pantas ditukar dengan keluh semata. Namun di gang-gang sempit negeri ini, kami melihat harga-harga tak berhenti berlari lebih cepat daripada upah penduduk negeri, sementara harapan masih tertatih mengejar pagi. Orang-orang kecil tetap berangkat sebelum fajar, memanggul cangkul, gerobak, dan doa. Mereka bekerja sepanjang usia, tetapi kemiskinan seolah enggan berpisah dari mereka. Aneh, justru di rumah-rumah reyot itulah syukur paling khusyuk sering dipanjatkan. Sepotong singkong dibagi menjadi kebahagiaan, seteguk teh menjadi pesta kesederhanaan. Obrolan di pinggir sawah menjadi hiburan tak tergantikan. Sedang di gedung-gedung megah, kemer...