Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

MEMBACA JEJAK-JEJAK TUHAN

 MEMBACA JEJAK-JEJAK TUHAN Di antara hela napas di ujung malam, ketika cahaya masih berjuang mencari makna, aku menunduk diam pada sunyi, dan menemukan jejak-jejak Tuhan tersembunyi. Ia ada di balik setiap fenomena, Ia pun tersembunyi di dalam firman suci-Nya dalam setiap jalinan kata. Ia adalah getar halus pada daun yang memilih jatuh perlahan, Pada keagungan asmaNya yang bersemayam dalam istana jiwa, sebagai pelita Penuntun jalan kembali ke haribaan Sang Maha.  Jejak-jejak Keagungan-Nya hadir dalam bisikan tanpa suara, melintasi gurun resah dalam dada— yang mengajarkan bahwa setiap peristiwa  adalah pintu menuju pemahaman tentang keagungan Nya, dan setiap sedih maupun gembira  adalah jendela kecil menuju cahaya. Dalam diam, Aku terus berjalan menyusuri lorong-lorong malam yang sunyi, menyusuri jejak yang tak memaksa, jejak yang mengajakku mengingat bahwa hidup bukan sekadar datang dan pergi, melainkan perjalanan sunyi untuk menemukan siapa yang selalu menemani kita...

DI BALIK HINGAR BINGAR PERINGATAN HARI GURU NASIONAL

DI BALIK HINGAR BINGAR PERINGATAN HARI GURU NASIONAL Di balik gegap gempita ucapan “Selamat Hari Guru Nasional”, Yang terpampang di depan setiap Gedung sekolah kita Di setiap story media sosial guru dan siswa Indonesia  Ada suara lirih yang nyaris tenggelam di antara spanduk dan seremoni, suara lirih guru-guru swasta, yang menderita ketidak adilan, dalam usia yang teramat panjang,  Sebuah ketidakadilan yang menindih,  Tentang kebijakan "yang pilih kasih". Puluhan ribu hati berdetak pelan, menyembunyikan lelah yang panjang, dari gaji yang tak cukup menghidupinya dalam sepekan. Namun setiap pagi, mereka sigap membuka pintu kelas dengan tersenyum bangga, seolah luka di dada hanyalah embun yang sebentar lagi hilang tersapu oleh Sang Surya. Betapa teguh tangan-tangan kecil itu, mengukir masa depan bangsa tanpa ragu, meski mereka sendiri masih harus berperang melawan kekurangan  yang tak kunjung usai. Ketekunan mereka adalah nyala kecil yang menolak padam di tengah ketimpa...

IRONI HUKUM KITA

 IRONI HUKUM KITA (Sebuah refleksi vonis hukuman untuk Ira Puspa Dewi) Di negeri yang suka menuduh bayang-bayang, kebenaran sering datang terlambat— kadang diseret, kadang dipaksa diam di pojok ruangan yang lampunya sengaja diredupkan. Ira Puspadewi, namamu kini melayang-layang di antara bisik-bisik yang tak pernah tuntas, sementara tangan hukum sibuk menudingkan jari, tapi lupa menggenggam bukti. Begitu murah tuduhan hukum di Republik kita, laksana barang bekas  "pasar loak" dipinggiran kota. Namun, begitu mahal harga keadilan. Seolah-olah kecurigaan lebih suci daripada fakta. Maka, dalam hati yang lelah, kita pun bertanya ? jika hukum lahir dari prasangka, lalu siapa sebenarnya yang layak dihukum ? Orang jujur, atau koruptor perusak negara? Di balik senyum sindiran yang getir, kita belajar satu hal yang menyesakkan dada: bahwa sering kali tersaji, yang dihukum bukan kesalahan— tapi keberanian seseorang untuk tetap jujur di tengah panggung yang ingin ia tunduk. Dan kita hany...

AKAL DAN DOGMA

AKAL DAN DOGMA Masih Aku saksikan mimbar-mimbar khurafat banyak dipuja. Tempat tahayul mengusir nalar ummat beragama Dengan kesalehan fiksi, di luar logika yang terbungkus "kesucian yang dipaksakan". Ada hati yang bersandar penuh pasrah, mengira takdir adalah rantai yang membelenggu langkah. Ia berhenti dan enggan untuk bertanya,  karena takut dianggap kurangnya iman di dada. Maka, Pelan-pelan, cahaya nalar menjadi  redup, seperti lentera yang kehabisan minyak— bukan karena tak mampu menyala, tapi karena sengaja dibiarkan padam, Oleh dan atas nama kepatuhan yang salah jalan. Di sanalah kejumudan tumbuh melebar, Dan, akal pun semakin jauh dari mimbar keilmuan, budaya kehilangan detak, tak lagi bergetar, Maka manusia pun kembali menjadi bayang dirinya sendiri, takut untuk bergerak, Dan takut untuk berubah. Padahal, dalam Kitab tertulis nyata,  Bahwa Tuhan kita  memanggil dengan lembut: “Lihatlah, renungkanlah, pahamilah.” Namun, suara itu tenggelam oleh gemuruh dogma t...

SELAMAT MILAD MATAHARI BANGSA

 SELAMAT MILAD MATAHARI BANGSA Muhammadiyah.... Di seratus tiga belas tahun usia, Engkau ingatkan kami untuk menundukkan hati— mendengar kembali gema langkah para perintis bangsa, yang telah menyalakan cahaya di tengah zaman yang kusam.  Dan untuk kembali membaca zaman kita yang sedang berjalan  Yaitu, zaman ketika fitnah politik tak berhenti mengudara seperti debu yang menyesakkan dada kita, Zaman ketika mafia hukum berjalan tanpa malu, dan zaman ketika moralitas dijual murah di pasar gelap kepentingan, kita pun bertanya pada diri: masihkah cahaya itu tetap menyala? Masihkah kompas iman, dan ideologi Pancasila menuntun arah kita,  di antara ributnya egoisme kepentingan yang tak punya malu untuk menggema Dalam hening, kudengar samar-samar,  mengalun lembut di balik riuh dan luka, Tentang suara lembut yang tak pernah padam— suara pengabdian yang lahir dari niat ikhlas untuk kemajuan, dan pengabdian untuk Tuhan, Suara yang mengajak manusia untuk merawat sesama tan...

PAHLAWAN DARI LUWU

Di tanah Luwu, angin membawa kabar lirih, tentang dua jiwa yang tak menunduk di hadapan kenyataan getir. Abdul Muis dan Rasnal melawan ketertindasan. Mereka membela saudara-saudaranya yang tertindas oleh administrasi tanpa nurani. Sepuluh bulan mengabdi tanpa gaji. Namun, sayang justeru berujung dipenjara dalam jeruji Mereka berdua bukan pencuri, bukan pengkhianat negeri, mereka hanya menggenggam nurani—dan bertanya: “Mengapa saudaraku yang berjuang untuk bangsa tak diberi upahnya oleh negara ?” Apakah bertanya kini dosa ? Apakah membela kebenaran kini kejahatan? Negara diam, hukum menutup mata, sementara keadilan bersembunyi di balik meja birokrasi yang dingin tanpa denyut nurani. Sepuluh bulan pengabdian tanpa bayaran— bukan sekadar angka, tapi luka yang panjang. Dan dua pahlawan itu menanggungnya, karena keberanian justeru dihukum dalam penjara, Mereka dipenjara bukan karena salah, tapi karena benar di waktu yang salah. Jeruji besi bukan penjara bagi tubuh mereka, mela...

RUMAH TUHAN YANG TAK TEDUH LAGI

 “RUMAH TUHAN YANG TAK TEDUH LAGI” (Refleksi Penganiayaan di Masjid Agung Sibolga) Di bawah kubah yang mestinya teduh, seorang mahasiswa pergi ke kota, menenteng sisa mimpi dengan sisa sepuluh ribu rupiah di kantong celananya. Ia tak membawa apa pun—hanya segumpal harapan, dan sepotong iman yang ingin ia jaga dari kerasnya jalan-jalan  kota. Malam itu, Masjid Agung Sibolga terbuka baginya, sebagai rumah terakhir di antara dingin dan lapar. Ia berbaring di lantai sujud, menyandarkan lelah pada asma Tuhan yang terukir indah di dinding mihrab. Namun, fajar tak pernah datang seperti biasa. Ia tak lagi terbangun oleh adzan, melainkan oleh tangan-tangan yang menolak kasih, dan suara yang lebih tajam dari pedang prasangka. Sungguh mataku mendadak berkaca-kaca Saat di layar kaca, aku membaca kisahnya— tinta berita menggantikan darah yang telah kering. Hatiku bertanya pada langit, adakah itu masih rumah Tuhan? Ataukah kini menjadi istana baru tempat berhala egoisme dan kesalehan palsu ...