Langsung ke konten utama

PURNAMA DIATAS MADRASAH KITA

 *PURNAMA DI ATAS MADRASAH KITA*

(Refleksi Akhirussanah dan Pesan untuk anak-anak Di Madrasah Kita)


Di bawah mentari yang tersenyum ramah,

kami berdiri, menatap langkah-langkah yang menjauh perlahan.

Anak-anak kami, cahaya madrasah,

kini waktunya kalian melanjutkan perjalanan.


Waktu melukis kalian akan menjadi ribuan kenangan,

di sudut kelas, di pojok-pojok halaman, dan  di bait-bait pelajaran.

Nak......

Kami telah ajarkan kepadamu bukan hanya ilmu,

tapi cinta, adab, dan jalan menuju restu.


Hari ini kalian bukan lagi anak-anak kecil,

tapi insan muda yang siap menapak takdir.

Maka bawalah bekal dari madrasah ini,

iman, akhlak, dan cinta ilmu yang tak ada henti.


Betapa haru hati ini, dan jiwa pun berkata,

“Pergilah, tapi jangan lupakan doa.”

Setiap kalian adalah doa yang kami rawat,

setiap keberhasilanmu adalah hadiah paling hebat.


Langit hari ini terlalu cerah untuk menangis,

tapi biarlah mata kami basah dengan tulus yang manis.

Karena kalian bukan pergi dari hati kami,

hanya berpindah ke halaman baru dalam buku mimpimu.


Nak.........,

Jadilah engkau mata air di tengah dahaga umat,

jadilah engkau cahaya di zaman yang penat.

Ingat-ingatlah nasihat dari kami,

Jadilah engkau pelita negeri. 


@ M. Abu Said Husein, Simo, 14 Juni 2025. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Kepada Siapa Lagi Aku Percaya?

  Kepada Siapa Lagi Aku Percaya? Aku berdiri di tengah bising negeri, suara janji bertebaran bagai daun kering berserakan, retak di bawah pijakan dusta yang tak pernah jemu. Lembaga negara— yang seharusnya sebagai benteng, justeru menjadi pasar kepentingan. Kursi-kursi rapat penuh genggam tangan dingin, dimana uang menggantikan nurani. Ormas keagamaan— yang seharusnya menjadi cahaya, justeru terjerat bayang-bayang yang sama. Kas suara doa bercampur bisik laba, membuat langit terasa jauh dari bumi. Aku rakyat kecil, menggenggam resah seperti bara. Jika negara tak bisa kupercaya, jika agamawan pun berpeluk dengan kuasa, dan terlibat andil menggarong negara Lantas, kepada siapa lagi aku harus percaya? Mungkin, hanya pada sunyi di dalam dada, Kepada suara hati yang belum bisa dibeli, Kepada Tuhan yang tetap suci meski para penjaga nama-Nya terjerat ambisi. Di jalan buntu ini aku belajar, bahwa kejujuran bukan milik lembaga, tetapi perjuangan diri— yang s...