Langsung ke konten utama

BERHALA

 BERHALA 


Di silih bergantinya zaman

Tuhan tak berhenti diduakan

Sejak sebelum Ibrahim ada

Terus berkembang di zaman kita

Dengan wujud yang berbeda.


Pagi ini aku belajar kepadamu wahai para Pahlawan kebenaran.

Wahai Ibrahim kekasih Tuhan

Engkau hancurkan berhala-berhala di pinggiran Ka'bah

Wahai Muhammad kekasih Tuhan

Engkau ajarkan kepada ummat, bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan yang haq untuk disembah


Wahai  para kekasih Tuhan

Engkau ajari kami kuburkan kebodohan

Engkau ajari kami musnahkan kemusyrikan

Bersama hancurnya latta, manna dan uzza yang telah dipertuhankan.


Wahai engkau para kekasih Tuhan

Tauhid yang telah engkau ajarkan

Kini telah diporak-porandakan.

Dengan dibangunnya berhala pangkat dan jabatan.

Dengan harta yang dipertuhankan


Memang.......

Mereka tak mendirikan altar pemujaan di rumah-rumah mereka

Tetapi...

Mereka membangun berhala di istana jiwa

Berhala yang terus dibawa kemana-mana

Berhala yang tak berhenti dipuja-puja


Wahai para kekasih Tuhan

Izinkan aku meminjam kapak pengetahuan

Sebagai pencerahan

Untuk hancurkan berhala didada mereka.

Yang tak berhenti dipuja

Dan selalu dibawa kemana-mana


*Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 21 Desember 2022.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Kepada Siapa Lagi Aku Percaya?

  Kepada Siapa Lagi Aku Percaya? Aku berdiri di tengah bising negeri, suara janji bertebaran bagai daun kering berserakan, retak di bawah pijakan dusta yang tak pernah jemu. Lembaga negara— yang seharusnya sebagai benteng, justeru menjadi pasar kepentingan. Kursi-kursi rapat penuh genggam tangan dingin, dimana uang menggantikan nurani. Ormas keagamaan— yang seharusnya menjadi cahaya, justeru terjerat bayang-bayang yang sama. Kas suara doa bercampur bisik laba, membuat langit terasa jauh dari bumi. Aku rakyat kecil, menggenggam resah seperti bara. Jika negara tak bisa kupercaya, jika agamawan pun berpeluk dengan kuasa, dan terlibat andil menggarong negara Lantas, kepada siapa lagi aku harus percaya? Mungkin, hanya pada sunyi di dalam dada, Kepada suara hati yang belum bisa dibeli, Kepada Tuhan yang tetap suci meski para penjaga nama-Nya terjerat ambisi. Di jalan buntu ini aku belajar, bahwa kejujuran bukan milik lembaga, tetapi perjuangan diri— yang s...