Langsung ke konten utama

MARHABAN YA RAMADHAN

                                         MARHABAN YA RAMADHAN


Rindu kian membuncah

Menanti datangnya Bulan penuh berkah

Bulan dibukanya pintu Surga

Bulan ditutupnya pintu neraka

Bulan dihapusnya dosa-dosa

Bulan diijabahnya segala doa

Melalui Qiyam wa Siyam untuk Sang Maha


Marhaban Ya Ramadhan

Empat atau lima hari lagi Engkau tiba

Rasa tak sabar menunggu penuh cinta

Marhaban Ya Ramadhan

Begitulah untain kata yang lahir di dada.


Harapku mulai membuncah

Uuntuk berjumpa Bulan penuh berkah

Bulan Utama hadiah Sang Maha

Disediakan Tuhan untuk setiap hamba beriman 

Untuk menggapai maqam ketaqwaan


Marhaban Ya Ramadhan

Aku bersiap menyambut datangmu

Aku mulai bersihkan jiwa

Dengan mengusir benci 

Dan membunuh iri di hati

Serta mengobarkan gelora cinta

 

Tuhan.........

Izinkan aku untuk berbincang mesra denganmu

Dalam Dzikir pagi, siang dan malam.

Dalam nikmat puasa yang engkau wajibkan

Dalam setiap kebajikan yang pahalanya engkau lipat gandakan.


Tuhan.............

Hanya pertolonganMu yang aku harapkan

Hanya ridhaMu yang aku dambakan

Tuhan............

TanpaMu aku tiada daya

Maka tolonglah aku dalam menggapai takwa. 


* Ma`ruf Abu Said Hudsein, Senin 28 Maret 2022




Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Kepada Siapa Lagi Aku Percaya?

  Kepada Siapa Lagi Aku Percaya? Aku berdiri di tengah bising negeri, suara janji bertebaran bagai daun kering berserakan, retak di bawah pijakan dusta yang tak pernah jemu. Lembaga negara— yang seharusnya sebagai benteng, justeru menjadi pasar kepentingan. Kursi-kursi rapat penuh genggam tangan dingin, dimana uang menggantikan nurani. Ormas keagamaan— yang seharusnya menjadi cahaya, justeru terjerat bayang-bayang yang sama. Kas suara doa bercampur bisik laba, membuat langit terasa jauh dari bumi. Aku rakyat kecil, menggenggam resah seperti bara. Jika negara tak bisa kupercaya, jika agamawan pun berpeluk dengan kuasa, dan terlibat andil menggarong negara Lantas, kepada siapa lagi aku harus percaya? Mungkin, hanya pada sunyi di dalam dada, Kepada suara hati yang belum bisa dibeli, Kepada Tuhan yang tetap suci meski para penjaga nama-Nya terjerat ambisi. Di jalan buntu ini aku belajar, bahwa kejujuran bukan milik lembaga, tetapi perjuangan diri— yang s...