Ibrah di Simpang Ghadir
Di sebuah simpang sejarah,
ketika debu padang pasir menjadi saksi,
Dan Rasul menegakkan tangan Ali bin Abi Thalib,
bukan untuk meninggikan seorang manusia di atas manusia lainnya,
melainkan untuk menegakkan amanah
di atas nafsu dan ambisi.
Beliau bersabda,
bahwa Ali di sisiku laksana
Harun di sisi Musa,
namun tiada nabi setelah Ku.
Itulah isyarat tentang kedekatan,
kesetiaan, dan tanggung jawab,
bahwa kepemimpinan bukan mahkota kekuasaan,
melainkan beban pengabdian.
Dan di Ghadir yang agung,
bergema pesan cinta yang melampaui zaman,
“Barang siapa menjadikan aku pemimpin dan kekasihnya,
maka jadikan Ali pemimpin dan kekasihnya.”
Maka meneladani Ali bukan sekadar memuji namanya dalam syair,
melainkan belajar berdiri tegak di hadapan ketidakadilan,
Dan tetap rendah hati ketika berkuasa,
dan tetap lembut meski memiliki kekuatan untuk memaksa.
Ali mengajarkan bahwa ilmu
lebih mulia daripada kemegahan,
bahwa kebenaran tidak selalu bersama keramaian,
dan bahwa seorang pemimpin sejati
lebih sibuk melayani dari pada sikap ingin dipuji.
Di zaman ketika banyak orang mencari kursi, tetapi lupa akan janji,
mencari ilmu tinggi, tetapi kehilangan hikmah di dalam hati,
Keteladanan Ali datang seperti mata air,
jernih, dalam, dan menenangkan.
Sebab kepemimpinan sejati
bukan tentang siapa yang paling tinggi berdiri,
melainkan siapa yang paling tulus menundukkan diri
di hadapan Tuhan dan pemilik kemaslahatan
@ Ma'ruf Abu Said Husein, Salatiga 6 Juni 2026.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform