Langsung ke konten utama

IBRAH DI SIMPANG GHODIR (by: Ma'ruf Abu Said Husein)



Ibrah di Simpang Ghadir

Di sebuah simpang sejarah,
ketika debu padang pasir menjadi saksi,
Dan Rasul menegakkan tangan Ali bin Abi Thalib,
bukan untuk meninggikan seorang manusia di atas manusia lainnya,
melainkan untuk menegakkan amanah
di atas nafsu dan ambisi.

Beliau bersabda,
bahwa Ali di sisiku laksana
Harun di sisi Musa,
namun tiada nabi setelah Ku.
Itulah isyarat tentang kedekatan,
kesetiaan, dan tanggung jawab,
bahwa kepemimpinan bukan mahkota kekuasaan,
melainkan beban pengabdian.

Dan di Ghadir yang agung,
bergema pesan cinta yang melampaui zaman,
“Barang siapa menjadikan aku pemimpin dan kekasihnya,
maka jadikan Ali pemimpin dan kekasihnya.”

Maka meneladani Ali bukan sekadar memuji namanya dalam syair,
melainkan belajar berdiri tegak di hadapan ketidakadilan,
Dan tetap rendah hati ketika berkuasa,
dan tetap lembut meski memiliki kekuatan untuk memaksa.

Ali mengajarkan bahwa ilmu
lebih mulia daripada kemegahan,
bahwa kebenaran tidak selalu bersama keramaian,
dan bahwa seorang pemimpin sejati
lebih sibuk melayani dari pada sikap ingin dipuji.

Di zaman ketika banyak orang mencari kursi, tetapi lupa akan janji,
mencari ilmu tinggi, tetapi kehilangan hikmah di dalam hati,
Keteladanan Ali datang seperti mata air,
jernih, dalam, dan menenangkan.

Sebab kepemimpinan sejati

bukan tentang siapa yang paling tinggi berdiri,
melainkan siapa yang paling tulus menundukkan diri
di hadapan Tuhan dan pemilik kemaslahatan

@ Ma'ruf Abu Said Husein, Salatiga 6 Juni 2026.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Kepada Siapa Lagi Aku Percaya?

  Kepada Siapa Lagi Aku Percaya? Aku berdiri di tengah bising negeri, suara janji bertebaran bagai daun kering berserakan, retak di bawah pijakan dusta yang tak pernah jemu. Lembaga negara— yang seharusnya sebagai benteng, justeru menjadi pasar kepentingan. Kursi-kursi rapat penuh genggam tangan dingin, dimana uang menggantikan nurani. Ormas keagamaan— yang seharusnya menjadi cahaya, justeru terjerat bayang-bayang yang sama. Kas suara doa bercampur bisik laba, membuat langit terasa jauh dari bumi. Aku rakyat kecil, menggenggam resah seperti bara. Jika negara tak bisa kupercaya, jika agamawan pun berpeluk dengan kuasa, dan terlibat andil menggarong negara Lantas, kepada siapa lagi aku harus percaya? Mungkin, hanya pada sunyi di dalam dada, Kepada suara hati yang belum bisa dibeli, Kepada Tuhan yang tetap suci meski para penjaga nama-Nya terjerat ambisi. Di jalan buntu ini aku belajar, bahwa kejujuran bukan milik lembaga, tetapi perjuangan diri— yang s...