Hari ini, 1 Juni 2026, kita mengulang nama yang sama,
mengeja lima sila dengan suara khidmat,
mengibarkan bendera,
mengangkat tangan ke dada,
seolah seluruh negeri telah selesai mencintainya.
Namun mestinya Pancasila tak hanya hidup dalam upacara.
Ia mestinya hidup dalam keputusan,
hidup dalam keberanian berlaku adil,
hidup dalam kesediaan menghormati sesama,
dan hidup dalam kesanggupan menahan diri dari kerakusan berkuasa.
Aku melihat, ada yang aneh negeri kita.
Sebagian orang memuji Pancasila di mimbar kehirmatan,
namun mengkhianatinya di balik meja kerja.
Mendendangkan persatuan, sambil menebar perpecahan.
Mengagungkan keadilan, sambil merawat ketimpangan.
Menjunjung kemanusiaan, sambil membiarkan sesama menangis dalam luka.
Aku melihat tumbuhnya kepribadian ganda di tubuh kebangsaan kita,
satu wajah tersenyum di depan lambang Burung Garuda,
dan wajah lainnya diam-diam mencabuti bulu-bulu Garuda tanpa rasa.
Pancasila dipuja sebagai semboyan,
Namun sekaligus ditinggalkan sebagai pedoman.
Namanya dipahat indang di setiap dinding- megah milik Pemerintah,
namun maknanya sekarat dipahat dalam hati sebagian besar Pejabat.
Saya percaya, bahwa yang mengalami krisis bukanlah Pancasila,
tetapi, kejujuran kita terhadapnya.
Aku percaya, bahwa dasar negara Pancasila tetap tegak berwibawa,
yang rapuh adalah manusia yang berkendara diatas punggungnya,
Maka, di hari kelahirannya ini,
yang paling dibutuhkan bukan pidato panjang Tuan raja, apalagi oportunisnya para Punggawa
melainkan keberanian bercermin kepada jiwa,
Sudahkah kita menjunjung Pancasila,
atau sekadar meminjam namanya
untuk menutupi pengkhianatan yang terus kita lakukan tanpa batasan ?
Tahukah engkau, bahwa Pancasila tak pernah meminta untuk dipuja.
Ia hanya meminta untuk dijadikan panduan dalam berbangsa dan bernegara,.
Bukan sebagai lipstik untuk menyamarkan penindasan, menutupi kedzaliman dengan hukum yang dipalsukan,
Selamat memperingati Hari Lahir Pancasila.
Aku berharap, yang lahir kembali bukan sekadar peringatannya,
melainkan kesadaran kita sebagai Bangsa,
untuk menyatukan ucapan dan tindakan,
agar Garuda tidak lagi menjadi saksi
atas dua wajah yang tinggal dalam satu badan, yaitu antara memuja dan menghianatinya.
@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 1 Juni 2026
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform