Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Board of Peace dan Ujian Ideologis Politik Luar Negeri Indonesia (Oleh ; Ma'ruf Abu Said Husein, alimnus Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta)

 Board of Peace dan Ujian Ideologis Politik Luar Negeri Indonesia (Oleh ; Ma'ruf Abu Said Husein, alimnus Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta) Keputusan Indonesia bergabung dalam Board of Peace telah menuai polemik luas di tengah masyarakat. Di satu sisi, pemerintah menyebut langkah ini sebagai wujud politik luar negeri bebas dan aktif. Di sisi lain, publik mempertanyakan: apakah keputusan tersebut benar-benar sejalan dengan ideologi Pancasila? Pertanyaan ini penting, sebab bagi Indonesia, diplomasi bukan sekadar urusan geopolitik, melainkan perpanjangan nilai-nilai ideologis bangsa. Pertama, Sila ke-dua Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menegaskan keberpihakan Indonesia pada nilai kemanusiaan dan keadilan. Dalam konteks konflik Palestina, kemanusiaan tidak bisa dimaknai netral secara semu. Ia menuntut keberpihakan pada korban, penolakan terhadap penjajahan, dan penghormatan terhadap hukum internasional. Suatu hal yang wajar,  kekhawatiran publik muncul ketika Bo...

MORALITAS YANG TERLINDAS (By : Ma'ruf ASH)

MORALITAS YANG TERLINDAS Waktu menjelang senja, matahari tak sempat menutup wajahnya, Ku dengar kabar tentang perampokan, Tentang kebiadaban, tentang kebengisan yang dipertontonkan, Dan tentang seorang bocah enam tahun yang terkapar bersimbah darah,  Oleh kebiadaban iblis yang bertopeng manusia, Jerit yang telah pergi bukan sekadar suara, ia adalah lonceng nurani yang dipatahkan ditengah biadapnya kehidupan, saat harta lebih disembah daripada nyawa yang baru belajar mengeja doa. Moralitas tergeletak dan diinjak diantara puing-puing angkara, dan terlindas langkah-langkah serakah, Saat tangan dewasa berubah dingin, dan lupa bahwa anak-anak adalah titipan langit, bukan obyek pelampiasan kebodohan. Kebiadaban itu merenggut nyawa,  Dari bocah yang usianya masih seumur doa yang terbata, masih belajar menyebut nama ibu sebelum tidur, namun dunia mengajarinya arti takut tanpa sempat menjelaskan arti kehidupan. Bukan pisau lah yang paling melukai jiwa, melainkan moralitas yang gugur di...

LITANI POLITIK TANPA NALAR

 LITANI POLITIK TANPA NALAR Di altar bising bernama kebenaran, mereka bersujud tanpa bertanya, Ramai mencium dusta yang disucikan, dan menghafal amarah sebagai doa. Nalar disingkirkan dan dibuang,  tanpa sunyi dan malu, karena akal dianggap pengkhianat perjuangan. Yang lantang lebih dipercaya dari pada yang jujur dalam lirih. Pembohong dipuja seperti nabi, pembuat onar dielu sebagai pahlawan, sebab kebohongan yang ditebarkan dan diulang, lebih menenangkan dari pada kebenaran yang menuntut tanggung jawab. Aku bertanya pada nurani yang letih: kapan manusia kembali berani berpikir, dan menyebut kebenaran tanpa perlu membunuh karakter sesama, Tanpa fitnah dan caci diantara manusia. @Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 13 Januari 2026.

IMPERIALISME BARU DI VENEZUELA

 IMPERIALISME BARU DI VENEZUELA  Dengan dalih "Demi ketertiban dan keamanan dunia", Terorisme negara terus berjalan,  Imperialisme baru terus diluaskan, Dan kini, di negara bernama Venezuela, Seorang presiden diseret dari martabat bangsanya. Bukan hukum internasional yang berjalan, melainkan bayang imperium yang menuntut tunduk pada kekuasaan. Trump—nama itu telah menjelma menjadi palu, memukul retak meja kedaulatan lain dengan dalih ketertiban. Hukum internasional dipelintir menjadi peta perang untuk penjajahan,  untuk mengubur  Keadilan,  Maka kedaulatan setiap negara terancam untuk dikuburkan, Dan keadilan hanya diukur dari jarak kekuasaan. Venezuela. Ia bukan sekadar tentang tanah dan minyak, ia adalah kehendak rakyat yang berdaulat. Dan ketika satu negara menangkap kepala negara lainnya, Maka, retaklah janji dunia tentang kesetaraan negara,  Tentang adil dan damai, yang terukir dalam Piagam Perdamaian.  Imperialisme tak selalu datang dengan m...

RINTIK SENJA

 RINTIK SENJA  Di ambang senja, rintik cahaya jatuh perlahan, seperti doa yang tak ingin lekas selesai. Langit merunduk, mengeja warna— jingga, ungu, dan biru yang saling memaafkan, dan tak pernah memelihara dendam Angin mengantar sunyi ke telinga waktu, mengingatkanku, bahwa segala yang datang akan pulang. Daun-daun yang diam, batu-batu selalu siap bersaksi, bahwa hening pun punya suara. Di sela napas yang kupelajari ulang, aku membaca namamu tanpa huruf. Engkau hadir dalam jarak antara detik, di titik kecil tempat rasa berserah. Rintik senja menetes membasahi hati, membasuh debu sombong yang tak kusadari. aku terasa kecil—dan justru, di sanalah luas terbuka keagungan-Mu pun terlihat menjelma dalam sederhana. Maka biarlah hari  menutup tirai dengan senja, dan aku pun menutup mata dengan syukur yang jujur. Karena di setiap senja yang memudar, Pasti, ada terang yang tak pernah benar-benar pergi @ Ma`ruf Abu Said Husein, Simo, 3 Januari 2026

SESUDAH TURUN TAHTA

 *SESUDAH TURUN TAHTA* Di tanah yang ingatannya panjang, dan benih tata Krama hampir hilang, nama-nama pemimpin jatuh Laksana daun musim kemarau, Ia kering oleh waktu, retak oleh kata-kata tanpa jiwa. Ketika kuasa masih melekat di bahu raja, Mereka menaruh harap seperti dupa, asapnya naik, bersama harapan yang membumbung ke angkasa, Namun saat tahta telah habis waktunya, Mereka menurunkan pula penghormatan atas mantan raja, mengganti harapan dengan segudang caci dan tuduhan,  bahkan bergudang fitnah tentang tindak kejahatan,  Mereka mengganti sejarah dengan amarah. Kadang aku bertanya, adakah bangsakaku telah hilang tata Krama ? Waktu terus melaju, generasi berganti generasi berikutnya, namun lidah masih mewarisi luka yang sama. Mereka menghakimi dari bangku yang aman, membaca masa lalu dengan mata hari ini, seolah keputusan kemarin tak pernah lahir dari kabut zaman. Ada kebenaran yang layak dibongkar, ada salah yang patut diadili— tetapi sering mereka  lupa bertanya...