Langsung ke konten utama

SELAMAT MILAD MUHAMMADIYAH KE 115 H

  SELAMAT MILAD MUHAMMADIYAH KE-115 H


Muhammadiyah itu namamu

Engkau .........

Satu dari dua Benteng utama Peradaban Nusantara

Benteng Republik Indonesia tercinta.


Engkau telah cukup tua dalam usia.

Seratus lima belas dalam hitungan tahun hijrahnya nabi 

Sejak Muhammadiyah berdiri

Dalam seratus lima belas tahun usia usia

Engkau setia dan ikhlas membangun Indonesia.


Dengan berpuluh ribu lembaga pendidikan

Anak-anak bangsa engkau cerahkan.

Dengan ribuan Rumah sakit.

Anak-anak Bangsa engkau sehatkan. 

Maka......

Terimakasih aku ucapkan dengan cinta


Aku berharap dan berdoa

Kiprah mu lestari sepanjang masa.

Wisdom tetap menjadi jiwa.

Dengan Al-Qur'an sebagai Panduan utama.

Bersama cahaya Muhammad al-Mustafa yang tertancap di dada.


Tetaplah moderat dalam pemikiran

Tetaplah moderat dalam aksi di tengah kemajemukan.

Tetaplah menjadi pencerah peradaban 

Dan tetaplah menjadi pelindung kemanusian

Dalam semesta yang berperikemanusiaan dan berkeadilan.


Jangan izinkan fanatisme membabi buta

Menginap di rumah kita 

Walau hanya satu malam saja

Jangan izinkan kedangkalan dan “kekakuan berfikir” itu mampir

Walau sekedar untuk parkir


Dalam seratus lima belas tahun usia

Aku percaya “wisdom” akan tetap engkau jaga sekuat tenaga

Walau goda politik menyerbu nalar kita

Walau goda politik tak berhenti mengintervensi rasa

Walau rayuan menggenggam tambang melambai di depan mata

Namun engkau tetap merdeka dalam logika dan rasa.

Demi Indonesia kita.

Demi ummat untuk berjaya

 

@ Ma’ruf Abu Said Husein, Simo, 17 Juni 2024 (8 Dzulhijjah 1445 H)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

SELAMAT DATANG CAHAYA

 SELAMAT DATANG CAHAYA Selamat datang, wahai jiwa-jiwa Pencari, Telah tiba langkah kakimu di Madrasah yang membuka asa. Tahun ajaran baru terbentang bagai lautan hikmah, setiap langkahmu adalah jejak menuju cahaya. Tinggalkan lelah masa lalu di balik gerbang, buka lembaran suci dengan niat yang terang. Ilmu baru menantimu dalam baris ayat dan kata,  akhlak mulia menuntunmu di setiap langkah nyata. Jangan engkau gentar menghadapi tantangan baru, karena peluhmu hari ini adalah mahkota esok hari Jangan malu belajar dari salah dan lupa, karena setiap kesalahan adalah guru utama. Madrasah bukan sekadar bangunan berdinding, ia adalah taman ilmu, ladang akhlak yang subur, di sanalah kau menabur mimpi-mimpi luhur, dan memanen iman yang mengakar subur. Bangkitlah, pelajar Madrasah… Hadapi tahun Ajaran baru dengan semangat membara, gapailah ilmu,  Dan perindah dirimu dengan adab mulia, dan  karena engkau adalah penerus cahaya umat dan bangsa.  @ Ma'ruf Abu Said Husein, Si...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.