Langsung ke konten utama

NYALA IBU-IBU PERADABAN (By: Ma'ruf Abu Said Husein)

 

NYALA IBU-IBU PERADABAN 

Selamat Milad ke-109
untuk Aisyiyah
rahim panjang yang melahirkan cahaya
di lorong zaman yang seringkali luka, dan kehilangan arah akan kemana.

Dari tangan-tangan lembutmu,
dakwah tidak tumbuh sebagai amarah,
melainkan sebagai embun,
yang jatuh perlahan di ladang-ladang luka.

Engkau mengajarkan
bahwa iman bukan sekadar suara di mimbar-mimbar,
tetapi keberanian merawat kehidupan,
menjaga anak-anak dari lapar,
mengusap air mata kaum papa,
dan menyalakan harapan
di dada manusia yang hampir putus asa.

Seratus sembilan tahun lamanya,
engkau berjalan bersama sejarah—
melewati perang,
melewati kebencian,
melewati dunia
yang semakin gaduh oleh perebutan kekuasaan.

Namun engkau tetap memilih
menjadi ibu bagi kedamaian, ibu bagi kemanusiaan.

Di saat banyak orang
membangun benteng perbedaan,
engkau meletakkan jembatan kasih sayang.
Di saat manusia sibuk
menyalakan api permusuhan,
engkau datang membawa air perdamaian.

Di tahun ini, citamu “Memperkokoh dakwah kemanusiaan
untuk mewujudkan perdamaian”
bukan sekadar tema peringatan,
melainkan doa panjang nan agung,
agar bumi tak lagi dipenuhi
jerit ketertindasan,
mengucurnya darah ketidakadilan,
yang mengancam hilangnya masa depan.

Wahai perempuan-perempuan cahaya,
tetaplah berjalan dengan ilmu di tangan,
dengan kasih di dada,
dan dengan ridha Tuhan di setiap langkah.

Itu penting, Sebab dunia hari ini
lebih membutuhkan pelukan
daripada kutukan,
lebih membutuhkan persaudaraan
daripada kebencian.

Selamat Milad ke-109, Aisyiyahku.
Semoga engkau tetap menjadi mata air
yang menghidupkan peradaban—
dengan dakwah yang memuliakan manusia,
dan cinta yang mencipta perdamaian ummat manusia.

@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 19 Mei 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Kepada Siapa Lagi Aku Percaya?

  Kepada Siapa Lagi Aku Percaya? Aku berdiri di tengah bising negeri, suara janji bertebaran bagai daun kering berserakan, retak di bawah pijakan dusta yang tak pernah jemu. Lembaga negara— yang seharusnya sebagai benteng, justeru menjadi pasar kepentingan. Kursi-kursi rapat penuh genggam tangan dingin, dimana uang menggantikan nurani. Ormas keagamaan— yang seharusnya menjadi cahaya, justeru terjerat bayang-bayang yang sama. Kas suara doa bercampur bisik laba, membuat langit terasa jauh dari bumi. Aku rakyat kecil, menggenggam resah seperti bara. Jika negara tak bisa kupercaya, jika agamawan pun berpeluk dengan kuasa, dan terlibat andil menggarong negara Lantas, kepada siapa lagi aku harus percaya? Mungkin, hanya pada sunyi di dalam dada, Kepada suara hati yang belum bisa dibeli, Kepada Tuhan yang tetap suci meski para penjaga nama-Nya terjerat ambisi. Di jalan buntu ini aku belajar, bahwa kejujuran bukan milik lembaga, tetapi perjuangan diri— yang s...