Selamat Milad ke-109
untuk Aisyiyah—
rahim panjang yang melahirkan cahaya
di lorong zaman yang seringkali luka, dan kehilangan arah akan kemana.
Dari tangan-tangan lembutmu,
dakwah tidak tumbuh sebagai amarah,
melainkan sebagai embun,
yang jatuh perlahan di ladang-ladang luka.
Engkau mengajarkan
bahwa iman bukan sekadar suara di mimbar-mimbar,
tetapi keberanian merawat kehidupan,
menjaga anak-anak dari lapar,
mengusap air mata kaum papa,
dan menyalakan harapan
di dada manusia yang hampir putus asa.
Seratus sembilan tahun lamanya,
engkau berjalan bersama sejarah—
melewati perang,
melewati kebencian,
melewati dunia
yang semakin gaduh oleh perebutan kekuasaan.
Namun engkau tetap memilih
menjadi ibu bagi kedamaian, ibu bagi kemanusiaan.
Di saat banyak orang
membangun benteng perbedaan,
engkau meletakkan jembatan kasih sayang.
Di saat manusia sibuk
menyalakan api permusuhan,
engkau datang membawa air perdamaian.
Di tahun ini, citamu “Memperkokoh dakwah kemanusiaan
untuk mewujudkan perdamaian”
bukan sekadar tema peringatan,
melainkan doa panjang nan agung,
agar bumi tak lagi dipenuhi
jerit ketertindasan,
mengucurnya darah ketidakadilan,
yang mengancam hilangnya masa depan.
Wahai perempuan-perempuan cahaya,
tetaplah berjalan dengan ilmu di tangan,
dengan kasih di dada,
dan dengan ridha Tuhan di setiap langkah.
Itu penting, Sebab dunia hari ini
lebih membutuhkan pelukan
daripada kutukan,
lebih membutuhkan persaudaraan
daripada kebencian.
Selamat Milad ke-109, Aisyiyahku.
Semoga engkau tetap menjadi mata air
yang menghidupkan peradaban—
dengan dakwah yang memuliakan manusia,
dan cinta yang mencipta perdamaian ummat manusia.
@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 19 Mei 2026
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform