Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

MUHASABAH MALAM

 MUHASABAH MALAM Di ujung kalender kita berdiri tanpa kembang api memancar di angkasa,  Tanpa gempita petasan di udara,  Tetapi sekedar jeda  panjang antara doa dan duka,  Sebagaimana himbauan Bupati Boyolali,  Untuk hidupkan empati Desember tahun ini,  Hujan turun lebih lama dari biasanya, sungai meluap melampaui ingatan, rumah-rumah hanyut bersama jadwal hidup yang tertunda. Dan berjuta telinga tak mendengar letih bumi menegur kita dengan tanpa kata, Di sebagian barat  Nusantara air naik sampai ke dada sejarah, banjir bukan sekedar menenggelamkan, dan merendam beratus-ratus desa, tetapi juga perasaan yang tersimpan lama. Di Aceh, air menenggelamkan ribuan rumah, sementara kata-kata keras beredar lebih deras dari arus banjir yang tenggelam kan kota. Kata tentang luka lama yang kembali dibuka, tentang sebagian suara yang ingin berjalan sendiri,  saat yang lain masih berjuang menyelamatkan anak-anak, para wanita, dari dingin malam yang menceka...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

CERMIN JIWA

 CERMIN JIWA Tuhan....... Terimakasih aku ucapkan  Atas anugerah cermin jiwa, bernama kata-kata. Ia adalah tempat setiap diri berkaca Ia adalah tempat setiap kita membaca jiwa-jiwa. Dalam setiap kata yang meluncur, terdapat jejak jiwa yang tak terlihat oleh mata. Bahasa bukan sekadar bunyi lisan anak manusia, melainkan cermin jernih yang memantulkan warna,  Memantulkan bentuk dan kondisi jiwa Tuhan ........ Terimakasih aku ucapkan Atas anugerah agama dengan ruh tata Krama, sebagaimana dalam firman suci dan sabda nabi. Ia berdiri sebagai penjaga sunyi, Yang tampil dalam setiap kata, dan gerak raga. Kata dapat menjadi obat atas luka, atau justru menggores  luka yang sembuhnya butuh waktu yang lama. Maka, setiap kalimat memerlukan kebijaksanaan, agar tak menebar bara dalam percakapan. Berbahasalah kita seperti menyalakan lentera— menuntun dengan cahaya, bukan membakar dan menghancurkan,  Sebab, dalam dunia yang penuh gema, suara paling luhur adalah kata yang penuh ...