Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

MENGAMBIL HIKMAH DARI LUKA SEJARAH

 MENGAMBIL HIKMAH DARI SEJARAH  Dalam gelap dan pekatnya sejarah, darah pernah menetes, tangis bangsa pecah di malam-malam kelam, sebuah luka menggores dalam dada ibu pertiwi kita, menyisakan jejak getir yang tak boleh dilupa. Bukan untuk menumbuhkan benci kita mengenang, melainkan untuk menimba hikmah dari luka sejarah, agar waspada terjaga di relung jiwa anak-anak Bangsa, dan persatuan tetap tegak di atas perbedaan. Sejarah adalah guru yang bersuara lirih, ia berkata: jangan lengah, jangan terpecah, sebab bangsa besar tumbang bukan oleh musuh di jauh sana, melainkan dari retak di dalam rumahnya sendiri. Kawan, maka mari kita genggam luka itu dengan doa, kita jadikan bara menjadi pelita, agar cinta kepada republik ini tak berhenti menyala, mengikat anak-anak bangsa dalam satu nadi: Indonesia merdeka,  Dan terus menjadi semakin berjaya.  @ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 30 September 2025, dini hari.

SABDA IBLIS

  SABDA IBLIS Ketika lidah angkuh berucap, “Aku lebih baik darinya,” terbitlah "api congkak".membakar nurani, menutup mata dari hikmah Sang Pencipta, menghalau cahaya sujud yang murni. Kesombongan itu bukan mahkota, melainkan belenggu yang menyesakkan dada, membuat hati buta pada kebenaran, hingga Tuhan pun berfirman tegas, bahwa “Terkutuklah ia dalam kesesatan yang nyata.” Iblis terhempas bukan karena kurang ilmu, tetapi karena congkak, yang menolak untuk tunduk, takbirnya terasa hampa, ibadahnya sia-sia, sebab di balik sujud yang panjang, tersimpan "api aku", api sombong yang gelap dan pekat. Wahai jiwa, belajarlah dari kisah itu, jangan biarkan kesombongan menutup pintu, sebab satu kata "aku lebih baik dari dia" cukup menghapus lautan amal anak manusia, meninggalkan jejak abadi, laknat dan nestapa @ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 25 September 2025.  .

RACUN ZAMAN

 RACUN ZAMAN Dalam ruang sebuah negara yang penuh suara, ada mereka yang memilih diam, menutup telinga, menutup mata, seakan luka bersama bukan tanggung jawabnya. Masa bodoh, "luweh", orang-orang menyebutnya  Pelan, tapi pasti Masa bodoh tumbuh jadi racun sebuah negeri, mengalir diam-diam ke nadi institusi, meruntuhkan tiang kepercayaan, hingga rumah besar itu retak dari dalam dalam diam. Saat mereka mulai memandang remeh suatu masalah,, ia akan menjelma api kecil dalam sudut gelap, lalu menjalar tanpa kendali, membakar harapan,  dan melahap masa depan. Mengertilah kita bahwa, Luweh... Adalah pembunuh tanpa pisau, ia menghancurkan tanpa gemuruh, menyisakan hampa di tengah kebersamaan yang pura-pura. Hanya kepedulian yang mampu jadi perisai, hanya kebersamaan sejati yang akan menjadi jembatan, agar institusi, agar masyarakat, tak tenggelam oleh gelombang acuh, racun zaman. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 24 September 2025

Kepada Siapa Lagi Aku Percaya?

  Kepada Siapa Lagi Aku Percaya? Aku berdiri di tengah bising negeri, suara janji bertebaran bagai daun kering berserakan, retak di bawah pijakan dusta yang tak pernah jemu. Lembaga negara— yang seharusnya sebagai benteng, justeru menjadi pasar kepentingan. Kursi-kursi rapat penuh genggam tangan dingin, dimana uang menggantikan nurani. Ormas keagamaan— yang seharusnya menjadi cahaya, justeru terjerat bayang-bayang yang sama. Kas suara doa bercampur bisik laba, membuat langit terasa jauh dari bumi. Aku rakyat kecil, menggenggam resah seperti bara. Jika negara tak bisa kupercaya, jika agamawan pun berpeluk dengan kuasa, dan terlibat andil menggarong negara Lantas, kepada siapa lagi aku harus percaya? Mungkin, hanya pada sunyi di dalam dada, Kepada suara hati yang belum bisa dibeli, Kepada Tuhan yang tetap suci meski para penjaga nama-Nya terjerat ambisi. Di jalan buntu ini aku belajar, bahwa kejujuran bukan milik lembaga, tetapi perjuangan diri— yang s...

Api Dan Cahaya Madrasah Kita

 Api dan Cahaya Madrasah Kita Dari pinggiran kota Karanggede, anak-anak Madrasah Muda (Muhammadiyah dua) menyalakan tekad, langkah kecil mereka menyulam cita,  walau dengan seragam sederhana, namun dengan jiwa lebih besar dari samudra. Mereka datang bukan sekadar peserta, tapi sebagai pejuang dengan nyala keyakinan, dalam menapaki tanah jambore kompetisi dan persahabatan, Mereka bagaikan prajurit muda yang tak gentar meski Matahari terik membakar,  meski letih yang tak berhenti menindih, Tenda-tenda perkemahan mereka  dirikan bagai benteng harapan, api unggun menyala  menjelma menjadi  cahaya peradaban, terukir di antara yel-yel, di antara untaian doa, dan diantara disiplin barisan seluruh anggota. Jambore Hizbul Wathon bukan sekadar perkemahan, ia adalah madrasah jiwa, tempat ditempa keberanian dan kesetiaan.” Ia adalah wahana siswa berkompetisi, dan arena membangun persahabatan sejati. Di sini mereka belajar, bahwa juara bukan hadiah semata, tapi tanda ba...