AKU PINJAMKAN KEPADAMU SERATUS RIBU
Aku datang kepadamu
Aku perkenalkan diriku
Sebagai pahlawan
Sebagai Pembela kebenaran
Hingga empat belas Februari tahun ini
Aku yakinkan dirimu dengan janji-janji
Yang engkau dengar dan saksikan bersama di mimbar terbuka
Maupun di layar kaca yang tersembunyi di balik saku celana
Tak hanya itu
Aku pinjami engkau seratus ribu
Selanjutnya terserah aku
Seperti persetujuanmu
Jangan pernah salahkan aku
Jika negara tak maju
Jika undang-undang tak berpihak padamu
Dan engkau menjadi tumbal kekuasaan ku
Saat topengku aku buka
Engkau tak boleh kecewa
Engkau harus menerima
Sebab engkau akan mengalami “tuna kuasa”.
@Ma’ruf Abu Said Husein, Simo, 7 Februari 2024
SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform