Langsung ke konten utama

MENGENANG HAJI PERPISAHAN

 *MENGENANG HAJI PERPISAHAN*


Di lembah Ghadir, bayang senja menyapa,

Langit bersaksi, bumi bergetar hening,

Ribuan jiwa berhenti sejenak dari langkahnya,

Mendengar sabda terakhir Sang Pembawa Cahaya.


Haji Wada’, perjalanan puncak nan suci,

Bukan sekadar perpisahan jasad dan waktu,

Tapi titian wasiat yang mengguncang hati,

Tentang amanah, tentang cinta, dan satu petunjuk yang hakiki.


“Wahai manusia,” lirih Nabi memanggil,

“Sampaikanlah, bahwa aku telah tinggalkan dua warisan,

Al-Qur’an dan Ahlulbait — cahaya yang takkan pudar,

Bersama keduanya, kalian takkan sesat selama-lamanya.”


Ghadir Khum menjadi saksi langit terbuka,

Tangan diangkat, Ali diseru sebagai mawla,

Bukan sekadar pujian, tapi ikrar dari langit,

Bahwa kepemimpinan bukan warisan dunia, tapi titah Ilahi.


Tak ada air mata di hari itu,

Hanya gema takbir dan janji yang membumbung,

Namun sejarah mencatat dalam sunyi yang panjang,

Betapa manusia sering alpa pada pesan yang terang.


Kini kita berdiri di antara jejak-jejak itu,

Menggenggam makna dari khutbah perpisahan agung,

Haji Wada’ bukan hanya tentang akhir perjalanan,

Tapi awal kesetiaan sejati pada amanah Tuhan.


@. Ma'ruf Abu Said Husein, Salatiga, 15 Juni  2025.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Kepada Siapa Lagi Aku Percaya?

  Kepada Siapa Lagi Aku Percaya? Aku berdiri di tengah bising negeri, suara janji bertebaran bagai daun kering berserakan, retak di bawah pijakan dusta yang tak pernah jemu. Lembaga negara— yang seharusnya sebagai benteng, justeru menjadi pasar kepentingan. Kursi-kursi rapat penuh genggam tangan dingin, dimana uang menggantikan nurani. Ormas keagamaan— yang seharusnya menjadi cahaya, justeru terjerat bayang-bayang yang sama. Kas suara doa bercampur bisik laba, membuat langit terasa jauh dari bumi. Aku rakyat kecil, menggenggam resah seperti bara. Jika negara tak bisa kupercaya, jika agamawan pun berpeluk dengan kuasa, dan terlibat andil menggarong negara Lantas, kepada siapa lagi aku harus percaya? Mungkin, hanya pada sunyi di dalam dada, Kepada suara hati yang belum bisa dibeli, Kepada Tuhan yang tetap suci meski para penjaga nama-Nya terjerat ambisi. Di jalan buntu ini aku belajar, bahwa kejujuran bukan milik lembaga, tetapi perjuangan diri— yang s...