*TERIKAT SEPI*
Dalam sepotong ruang aku mencari...
Aku tengok ke kanan
Aku tengok ke kiri
Tak kutemukan apa-apa, kecuali hanyalah sepi.
Kepada selembar Papan nama.
Kepada berpuluh kursi, yang rapi tertata.
Kepada kertas berserakan diatas meja
Kepada barisan dinding yang tegap berdiri pada tempatnya.
Aku mulai mencoba bertanya
Mengapa ada sepi yang mengikat Sukma ?
Mengapa ada benci mengusir tawa ?
Detik berjalan hingga sampai pada menit
Menit berjalan hingga sampai pada jam.
Jam berjalan hingga sampai pada hari
Dan hari berjalan hingga sampai pada tahun.
Engkau tetap diam seperti biasa, yaitu
Enggan untuk menjawab dan berkata-kata.
Saat kakiku mulai melangkah pergi.
Tiba-tiba serentak mereka berkata
“Janganlah engkau pergi, sebab engkau terikat janji”.
“Janji untuk menemani kami hingga empat puluh hari”.
@ma’ruf Abu Said Husein, SIMO, 24 Juni 2023.
SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform