*SUARA YANG TERPINGGIRKAN* +Sebuah refleksi demonstrasi Guru Madrasah swasta Indonesia) Di bawah langit Jakarta yang gerah, ribuan langkah puluhan ribu guru Madrasah swasta menyatu dalam doa dan luka. Mereka hadir membawa papan harapan, bukan batu, bukan pula amarah, dan represif yang diluapkan— Mereka hanya membawa lembar keyakinan bahwa hak dan kewajiban semestinya adil bagi semua. Sejak proklamasi dikumandangkan, Sebagian besar mereka berdiri di ruang-ruang sempit mengajar anak bangsa dengan gaji sebulan yang tak cukup untuk makan dalam sepekan Sedih rasanya- dengan senyum yang menutupi lapar, dan dengan ikhlas yang mereka jaga, Ternyata dijadikan hujjah penguasa untuk menunda keadilan. Tuan-tuan pemangku kebijakan, Melalui mimbar Maya aku katakan bahwa, Mereka bukanlah pengemis kebijakan, mereka pewaris cita-cita luhur kemerdekaan. Namun negara seperti ayah yang lupa, bahwa di sudut madrasah yang reyot itu, mereka tetap ikhlas menyuapi anak-anak bangsa ...
RENUNGAN ATAS FAKTA DAN INTUISI PECINTA KEBIJAKSANAAN