Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

CAWAN SYAHADAH SANG IMAM (By : Ma'ruf Abu Said Husein)

 CAWAN SYAHADAH SANG IMAM Di senja dua puluh delapan Februari Tahun ini, Di bumi Persia, di bawah langit merah dan gemuruh baja, engkau gugur di Medan laga,  Sayyid Ali Khamenei,  engkau  laksana cahaya yang tak akan padam,  Walau engkau telah berpulang dalam syahadah suci,  Namun suaramu masih terus bergema di altar sejarah yang berguncang. Di tengah dentuman rudal setan yang menghantam, dan gemuruh pesawat siluman kiriman Dajjal, engkau meraih secawan syahadah dari Tuhan, Tepat di meja takdir yang telah terukir dari do'a, Setelah lebih dari enam puluh tahun usia,  engkau persambahkan diri  di jalan agama,  Maka, darah syahadah menjadi saksi setia di jalan Allah Subhanahu wata'ala. Sungguh..... Engkau kini tak lagi sekadar nama, tetapi melodi perlawanan dari kedzaliman, yang menembus demarkasi negara, dan setelah engkau pergi tinggalkan dunia,  namamu tetap menjadi legenda. Dalam benak ummat Islam di penjuru dunia,  Mengalir air ma...

SUARA KEADILAN DAN SETORAN PAJAK KITA (By: Ma'ruf ASH)

 SUARA KEADILAN DAN SETORAN PAJAK KITA Di simpang jalan antara baliho pudar dan sawah yang menguning, terdengar bisik yang menjelma menjadi gema, Stop bayar pajak. Begitu ku dengar teriak massa di media kita, Ia bukan sekadar angka yang ditolak, tetapi rasa yang telah retak, diantara kepercayaan yang pernah ditanam di tanah subur bernama harapan. Di Jawa Tengah, angin membawa kabar tentang rakyat yang letih menghitung, sementara hitungan mereka tak pernah dihitung. Mereka bertanya, ke mana larinya peluh yang ditukar rupiah ? Apakah ia menjelma jalan yang rata ?, sekolah yang kokoh ?, atau sekadar spanduk janji lima tahunan ? Pajak.... katanya adalah urat nadi negara, tanpanya tubuh ini pucat dan goyah. Namun bila nadi itu mengalir ke jantung yang lupa berdetak untuk rakyat, apakah salah bila tangan gemetar menahan setoran ? Aku lihat, Gerakan ini bukan hanya soal berhenti, ia adalah jeritan yang ingin didengar. dan jeritan pun perlu arah, sehingga tak berubah menjadi bara yang memb...

Ramadhan Kita dan Penyucian Jiwa (By: Ma'ruf ASH)

 Ramadhan Kita dan Penyucian Jiwa Di ambang fajar, ketika sahur masih berembun doa, aku berusaha berdiri di tepian sunyi, Aku baca ulang diriku yang sering lusuh oleh dosa dan nafsu dunia. Puasa hari pertama mulai berjalan perlahan, Ia hadir bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, Namun, mengajak menahan gemuruh ingin yang diam-diam membangun singgasana di dada kita yang rapuh. Puasa mengajari kita, bahwa perut yang kosong lebih jujur dari hati yang penuh prasangka, Bahwa dahaga adalah guru yang sabar menyaring kata, Agar lisan tak lahirkan suara sumbang dalam kehidupan, Dan mampu menjernihkan niat sebelum jasad melangkah dan berjalan,. Saat nanti senja mulai bersembunyi di balik gelap malam, Dan azan magrib, mengajari kita tentang batas,  bahwa segala yang halal pun punya waktu dan ukuran. Namun jiwa, ternyata lebih sering kotor oleh yang berlebihan, daripada oleh yang dilarang. Malam-malamnya adalah cermin panjang, aku melihat bayang-bayang dalam cermin kebijaksanaan,  ...

Tasamuh di Ujung Hilal (by: Ma'ruf ASH)

 Tasamuh di Ujung Hilal Di ujung senja hari lalu, Di ufuk barat, sepotong cahaya digantungkan langit, ada yang bersaksi telah melihatnya dengan ilmu semesta, ada yang bersumpah, ramadhan belum tiba waktunya. Di ruang-ruang sidang, suara ditimbang. Di menara-menara sunyi, rukyat ditegakkan, di meja hitung, angka-angka berbaris rapi. Nahdlatul Ulama menengadah dengan mata tradisi, Muhammadiyah menatap dengan presisi hisabi Sementara langit tetap diam, Ia tak pernah berdebat tentang siapa yang paling benar. Enggan menghegemoni opini mereka yang berbeda paradigma,  Sebab semua itu hujjah semesta. Wahai jiwa-jiwa yang mudah menyala, Aku katakan padamu pagi ini, bukankah bulan sabit itu tipis— mengapa egomu justru mengeras seperti batu ? Bukankah Islam diturunkan sebagai rahmat semesta, mengapa kita gemar menjadikannya palu untuk "memaksa" yang berbeda ? Sungguh ! Awal Ramadhan bukan hanya soal tanggal, ia adalah pintu untuk menundukkan diri. Apalah arti puasa kita, jika lisan masi...

LOGISKAH ?

 *LOGISKAH ?* Di ujung senja Diatas kursi renta Aku memberanikan diri untuk bertanya Bertanya karena cinta  Tentang sebuah realita Logiskah sepiring nasi lebih fasih menjelaskan rumus kehidupan,  ketimbang suara guru yang serak menahan perih ketidak adilan   zaman ? Aku dengar, Katanya, gizi adalah cahaya, protein adalah masa depan, dan vitamin adalah kecerdasan. Lalu guru apa? Adakah sekadar bayangan di di depan papan tulis yang retak ? Sepertinya..... Negeri ini gemar menghitung kalori, tapi lupa menakar nurani. Anak-anak diberi susu, namun pikirannya dibiarkan dingin tanpa sentuhan makna. Oh, betapa mulia program makan gratis, difoto, dipuji, disorot kamera. Sementara guru berdiri di depan kelas dengan sepatu usang, dan wajah murung berbungkus doa,  Tentang angan yang telah terbungkus kain kafan,  Dan menunggu mu'zizat  Tuhan untuk menghidupkan. Apakah kecerdasan lahir dari sendok yang berkilau ?, atau dari kesabaran yang mengulang huruf demi h...

YANG DILUPAKAN (By : Ma'ruf Abu Said Husein)

 YANG DILUPAKAN Di balik meja Kementerian Agama, kata-kata meluncur ringan tanpa beban, tentang guru swasta— seolah mereka bayang-bayang tak berguna, bukan pilar yang menahan dan menjaga moralitas Negara.  Eksistensinya "haram dihubungkan" dengan altar suci Kementrian Agama. Padahal di ruang sempit dan papan rapuh, mereka menyalakan pelita ilmu dengan gaji yang lebih rendah dari Tukang sapu, dalam tabel kebijakan, mereka tak dianggap ada, Walau kiprahnya sangat jelas dalam membangun bangsa.  Tak salah jika guru swasta beranggapan,  Saat lidah kekuasaan lupa menakar empati, maka luka semakin dalam lahir dari pernyataan, Yang melupakan sejarah dan menutup mata pada kenyataan,  Bukankah Negeri ini berdiri bukan hanya milik yang bergaji pasti, tetapi juga oleh mereka yang setia meski sering tak dihargai. Wahai penjaga kata negara, belajarlah mendengar dari bawah, sebab guru swasta bukan beban sejarah, melainkan saksi kesetiaan, yang terlalu lama dilupakan, @ Ma'ruf ...

MALAM NISFU SYA'BAN (Oleh : Ma'ruf ASH)

 MALAM NISFU SYA'BAN Di pinggiran desa, Ku lihat Matahari perlahan tenggelam  Malam pun datang beriringan, langit mulai membuka lembaran takdir, Setiap nama dipanggil dalam sunyi, Dan doa berbaris rapi di hadapan Sang Maha Suci. Inilah malam utama, Nisfu Sya’ban hadir sebagai jeda bagi jiwa-jiwa yang letih dan terluka, mengajak menimbang setiap ama-amal kita, dan memulangkan duka  pada ampunan-Nya. Di antara sujud dan isak, kita belajar hidup bukan tentang panjang usia, tetapi seberapa sering berkunjung dengan taubatan nasuha.  @ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo 2 Februari 2026.